Sebuah cerita tentang seorang siswa yang baru saja beranjak naik jenjang dari sekolah menengah pertama kepada sekolah menengah atas. Reputasinya sejak itu memang tidak terlalu baik. Ia hanya punya sedikit orang yang mau berbagi waktu mengobrol dengannya. Ia kini mencoba memperbaiki itu di jenjang ini.
SMA tentu menjadi ajang dimana seseorang dapat mengolah hardskill dengan menuntut ilmu serta softskill sebagai penerapan ilmu tersebut. Namun, nasib buruk kembali menimpa anak ini, bahwa ada saja orang yang tidak menyukai caranya bergaya di sekolah lalu menghasutnya kepada teman-temannya. Sejak itu, ia dikenal dengan orang dengan reputasi yang buruk di SMA yang keras kehidupannya.
Ia memang tidak terlalu asyik untuk diajak ngobrol apalagi bercanda, dan mungkin itulah alasannya dijauhi oleh teman-temannya. Tapi, ia adalah siswa yang shalih lagi pintar, terutama pada bidang belajarnya. Ia juga ahli dalam berbagai hal, dan ia adalah orang yang sangat dermawan. Kadang, ada beberapa orang yang ia rasa dekat dengannya.
Tanpa ia sadari kadang mereka datang apabila mereka membutuhkannya saja. Sayang sekali memang, jika ia tidak tengah dibutuhkan, teman-temannya itu bermain bersama orang lain dan sering sekali membicarakan kemudharatannya. Lantas, jadi suatu cerita yang cukup menyedihkan, bukan?
Suatu hari, ada suatu soal fisika yang sulit diselesaikan, dan temannya pun meminta bantuan kepadanya. Saat itu, ia ternyata juga kesulitan dan tidak dapat membantu temannya tersebut. Apa yang terjadi? Ia dihina-hina oleh temannya tersebut. Mereka dengan enaknya menghina orang yang sering membantu mereka, dan mungkin baru kali ini saja mereka tidak dibantu dengan alasan tidak bisa.
Jelas, anak ini tentunya merasa sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh teman-teman mereka, namun sayang, ia tidak bisa untuk mengungkapkan kalau ia kesal ataupun ia marah. Ia percaya, Allah punya alasan yang baik, ibaratnya saat ia diberi kaktus walau ia meminta bunga mawar. Bunga mawar akan tumbuh menjadi bunga yang dapat melukai dengan durinya, sedangkan bunga kaktus tidak akan melukai kita. Namun saat mereka muda, mawar memang terlihat lebih indah, namun untuk nanti belum tentu.
Ia tidak mengerti, ia selalu melakukan kebaikan kepada temannya dengan sepenuh hati selama ia bisa membantu teman-temannya. Bahkan, nilai teman-temannya menunjukkan perbaikan saat ia mengajarkan ilmu kepada mereka. Namun, ia tidak mengerti, satu lubang kecil bisa membuatnya berhenti berlangkah.
Ujian akhir pun telah tiba, dan teman-teman sekelas dari anak ini tidak bisa mempersiapkan apa-apa karena mereka tidak mengerti, dan memutuskan kerja sama di ruangan ujian. Ia sudah mempersiapkan segala hal tentang ujian dan berharap nilai sesuai usahanya. Saat ujian, ada temannya yang menanyakan jawaban kepadanya, namun, ia hiraukan. Kesal, orang itu melemparnya kaca penyerut pensil hingga kepalanya mengeluarkan darah. Orang itu pun dikeluarkan dari ruangan dan mendapat nilai nol.
Tak jauh berbeda dengan anak tadi, siswa yang lainnya pun terkuak telah melakukan berbagai macam kecurangan seperti kerjasama, membawa catatan, dan menggunakan gadget saat ujian. Mereka semua tidak memiliki nilai ujian akibat kecurangan tadi. Hanya orang yang selalu dihina-hina inilah yang mempunyai nilai ujian, dan itupun hasilnya sangat optimal sesuai usahanya.
Semoga saja, dengan ini, kalian lebih menghargai arti sebuah persahabatan. Teman tidak diperkuat saat hanya membutuhkan, namun apabila kalian saling membutuhkan. Teman tak hanya meminta bantuan dan menghindar saat meminta bantuan. Teman hanyalah orang yang menuntun sesama temannya ke jalan kebaikan. Jadi, hargailah pertemanan kalian dan jangan putuskan tali silaturahmi gara-gara kesalahan kecil mereka.
"Sesungguhnya orang yang membencimu akan terputus dari rahmat Allah."
[ QS Al-Kautsar 108:3 ]
Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar