
Malam itu ada suatu pelajaran eksak yang membutuhkan hafalan. Ya, jelas, apalagi kalau bukan biologi. Pelajaran ini butuh skill mengingat ilmu-ilmu yang banyak mengandung hafalan pada makhluk hidup, dan butuh kerja keras juga untuk menguasai materi tiap materinya lewat kompetensi dasar dan inti yang dijelaskan pengajar. Namun, pasti ada saja orang yang malas menghafal isi pelajaran ini dan mengandalkan kecurangan saat mengerjakan soal-soal ini.
Tak hanya pelajaran biologi saja yang menjadi ajang kecurangan bagi seorang siswa. Pelajaran yang lain juga menjadi contoh. Bagaimana pelajaran hitungan seperti fisika dan kimia yang membutuhkan pemahaman dan penerapan itu dikerjakan yang jelas membutuhkan pola pikir yang luas. Namun, kadang orang yang terlihat malas-malasan saja nilainya bisa mendekati orang yang pintar. Patut dicurigai.
Mereka mengkhawatirkan orang tua mereka kecewa dengan nilai mereka apabila mereka tidak mendapat nilai bagus, namun mencontek memang bukan cara bijak untuk menghadapi ujian. Mungkin mereka hanya memikirkan orang tua mereka saja, tanpa memikirkan mereka yang selalu menemani ketika disekolah. Mereka bersifat membunuh mental korban-korban mereka dengan bukti autentik mereka yang baik.
Mungkin, mereka tidak mengerti arti sebuah pertemanan. Atau, sebuah persahabatan. Mereka hanya berfikir bagaimana cara menjadi sukses dengan menikung yang merupakan cara hina untuk menjadi sukses. Mungkin, banyak orang yang tidak memikirkan aspek ini, namun, ini merupakan hal yang perlu diperhatikan juga.
Teman mungkin bisa jadi datang apabila kita membutuhkannya, namun, pertemanan bukan juga harus selalu diperkuat dengan cara membutuhkan. Pertemanan merupakan tempat berbagi cerita dan menyelesaikan masalah bersama dan menghasilkan simbiosis mutualisme, bukan parasitisme. Jika mutualisme tak tercapai, anggaplah mereka sebagai benalu pada pohon yang hanya bisa memanfaatkan pohon tersebut.
Apa jadinya ketika sudah memasuki konteks sahabat. Menurut ilmu sosiologi, persahabatan merupakan istilah yang menggambarkan kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Mungkin, tak selamanya ilmu itu benar. Itu hanya mitos.
Tidak semua orang mau berteman apabila mereka tidak membutuhkan kalian. Ketika kalian dimintai tolong mengajari suatu soal dan kalian mampu, kalian akan "dianggap sebagai teman" yang akan terus dimanfaatkan. Saat titik nadir, kalian tidak bisa mengerjakan soal, dan kalian dicela oleh teman-teman kalian dan dengan mudahnya mereka pergi jauh. Lantas, apa masih ada yang namanya sahabat? Masih ada, namun, itu sangatlah sulit untuk diwujudkan.
Hidup bukan hanya jalanan lurus yang datar, namun, mengandung banyak tanjakan, turunan, dan tikungan yang tak tajam hingga tajam. Anggap kita sebagai kendaraan yang hendak mengemudi ke suatu tempat melewati jalan tersebut. Namun, ketika hendak membelokkan stir, kita disalip oleh orang lain yang memungkinkan kecelakaan pada mobil kita. Bukan hanya memungkinkan, kemungkinan besar kita sudah celaka didalamnya.
Menang, tidak ada manusia yang mau ditikung oleh sesamanya, namun, penikung itu selalu ada. Mereka hanya orang yang sembarangan tidak mau mengikuti aturan namun tidak menempatkan malu pada tempatnya. Mereka hanyalah orang yang secara kasar dikatakan, sudah salah, ngotot pula. Mereka hanya orang yang ingin mendapat enaknya tanpa mendapatkan kesulitan. Mereka hanya manusia tidak mandiri yang tidak tahu diri.
Lantas, mengapa teman dan musuh terlihat berlawanan, namun selalu ada. Seperti mata uang logam yang berlawanan namun melekat. Seperti air dan minyak yang tak pernah bersatu namun selalu beriringan. Namun, mereka selalu beriringan. Bagai warna putih dan hitam, tidak pernah ada yang mau kalah, namun mereka harus selalu berbagi. Namun, Allah maha adil dengan selalu mengapresiasi usaha seseorang.
"Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang maha mengetahui akan yang ghaib dan nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."
QS At-Taubah 9:105
Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar