
Siswa, terutama kami para siswa sekolah menengah atas mungkin adalah tingkatan yang seharusnya sudah bisa bertindak dewasa dan membedakan apa yang harus kami lakukan dan tidak boleh kami lakukan. Siswa-siswa tadi tentu memiliki tekanan yang semakin besar ketika mereka naik tingkat. Baik tekanan secara belajar, ataupun moral dan mental.
Kesampingkan dulu soal tekanan materi belajar, karena untuk memahami suatu pelajaran kita membutuhkan moral yang baik saat belajar. Tentu, moral juga berpengaruh terhadap nilai seorang siswa. Namun, terkadang juga nilai seorang siswa bermoral baik bisa terkalahkan oleh siswa yang moralnya kurang baik. Degradasi moral telah terjadi di kalangan siswa SMA.
Di SMA, kita mungkin semakin tahu tentang berbagai hal yang sudah kita temukan di SMP sebelumnya. Kita tahu bagaimana cara berteman, cara menjaga sikap, dan cara-cara lainnya di SMP yang diterapkan lebih luas di SMA. Termasuk, pembiasaan terhadap moral kurang baik di SMA harus mulai dibiasakan dan membuat kita konsisten untuk tidak mengikuti mereka ke arah yang salah.
Aturan di SD identik dengan peraturan yang memang wajib untuk ditaati. Namun, aturan di SMP atau SMA mungkin ditujukan untuk dilanggar. Karena, hampir setiap point aturan di sekolah hampir saja ada pelanggarnya. Entah untuk apa para siswa datang ke sekolah kalau hanya untuk melanggar saja.
Ujian, sesuatu yang identik sejak kelas 1 SD sampai kelas 3 SMA. Semakin seseorang tumbuh dewasa, pola pikir mereka pun tambah luas. Namun, tak hanya pola pikir positif saja yang diperluas, namun pola pikir negatif juga mereka perluas, seperti mencontek, bekerjasama, dan menggunakan smartphone sebagai kecurangan mengerjakan soal.
Atas dasar itu juga, landasan siswa untuk datang ke sekolah itu untuk apa. Jika mereka hanya datang membawa tas dan barang-barang tak penting serta hanya ingin berkumpul dengan teman-teman, rasanya menjadi salah tujuan, bukan? Kan bisa membawa tas dengan tujuan tersebut, bisa berkumpul di tempat lain bukan, tak harus disekolah.
Mungkin, perubahan jaman menjadi pengaruh degradasi moral yang terjadi pada remaja-remaja yang kini beranjak pada fase dewasa. Berbagai tren aneh terus diikuti dan akhirnya mengesampingkan tujuan utama remaja yakni belajar dan menuntut ilmu. Apakah sesuatu yang mereka lakukan itu tidak memiliki efek samping? Jelas punya, namun terlalu luas untuk dijabarkan.
Mereka hanya remaja berpola pikir sempit yang tidak peduli berapa biaya yang orang tua mereka habiskan untuk dirinya sendiri saja, dan tak ada fikiran untuk membalas budi mereka, yang ada justru malah mengecewakan mereka. Remaja yang baik tentu saja mereka yang bisa berfikir luas tentang masa depan sebagai tujuan utama dengan mengesampingkan tren remaja untuk diikuti.
Mereka membuang waktu belajar mereka hanya untuk kumpul-kumpul dengan teman mereka. Mungkin, mereka akan dengan cepat kehilangan teman mereka apabila mereka tidak bisa memenuhi keinginan teman mereka tersebut. Sehingga, ketika mereka kehilangan teman mereka itu, mereka baru bisa fokus belajar. Namun, apa boleh dikata apabila waktu mengatakan kalian terlambat mengubah sifat?
Lantas, tentu kalian sebagai remaja tahu apa yang harus kalian lakukan sebagai remaja bukan? Semoga, sekolah bukanlah sebagai formalitas semata, namun, sebagai skala prioritas untuk menjadi fondasi bangunan masa depan kalian.

Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar