Jumat, 03 Oktober 2014

Apa Rasanya Tanpa Sahabat?

     Assalamu'alaikum wr wb. Pertemanan, adalah suatu kata yang mempunyai makna yang luas, sehingga tidak bisa dijabarkan dalam satu kalimat saja. Ketulusan pada pertemanan merupakan unsur penting yang harus dimiliki untuk melangsungkannya.


     Berteman bukan hanya ketika membutuhkan, namun ketika bisa saling memenuhi kebutuhan. Berteman juga bukan hanya sebagai pemuas kebutuhan, namun juga sebagai orang yang bisa kita penuhi juga kebutuhannya. Berteman juga tidak memerlukan kepintaran, cukup saja saling percaya dan saling melengkapi untuk menjadi teman. Berikut adalah cerita seorang anak yang tampak sedih
     
     Ada seorang anak yang sudah menggunakan seragam putih abu-abu merupakan seseorang yang anti sosial. Namun, dia punya keahlian di pelajaran-pelajaran eksak. Ia punya masalah soal pertemanan. Hampir atau bahkan semua teman kelasnya menjauhinya karena masalah sepele. Mereka mendatanginya sesuai kebutuhan seperti pekerjaan rumah saja. Dan, sempat terbesit olehnya pikiran berikut

     Manusia menurut ilmu sosiologi adalah makhluk sosial. Makhluk sosial artinya membutuhkan orang lain. Menjadi teman untuk memenuhi kebutuhan bukanlah cara yang baik. Teman hanyalah datang ketika mereka membutuhkan, ketika tidak membutuhkan, mereka menghina kita. Seseorang berteman karena ada sesuatu didalamnya, dan ketika sesuatu hilang, masihkah mereka menginginkan suatu pertemanan? Tentu tidak.

     Saat itu, pekan-pekan sebelum ulangan tengah semester, ia didekati oleh salah seorang teman kelasnya untuk menanyakan proses menyelesaikan soal fisika, dan ia pun membantunya dengan tulus. Saat istirahat, temannya yang lain meminjam rangkuman biologinya untuk dipinjam dan disalin, namun dikembalikannya tanpa mengucap terimakasih. Saat itu, ia semakin yakin pikirannya itu benar.

     Setelah pekan ujian selesai, teman-teman sekelasnya memutuskan untuk jalan-jalan ke luar kota untuk refreshing setelah pekan-pekan evaluasi, dan menghabiskan dana yang lumayan banyak. Ia pun ingin ikut, namun, ia tidak mau merepotkan orang tuanya yang sudah mengeluarkan banyak uang untuknya. Akhirnya ia memutuskan tidak ikut rombongan, dan tidak mendapat sapaan teman-temannya saat kembali sekolah di awal pekan.
 
     Tugas mulai berdatangan tak karuan. Ratusan soal, laporan penelitian, catatan pelajaran, mulai menjadi bahan evaluasi bagi pengajar terhadap murid-muridnya. Ketika anak ini sudah menyelesaikan tugasnya sedangkan teman-temannya belum, pekerjaannya selalu dipinjam untuk disalin. Dan ketika hasil evaluasi keluar dan nilai temannya sama dengan nilainya, teman yang tadi berkata bahwa ia lebih pintar daripada anak tadi, padahal, tanpa anak tadi, ia belum tentu mendapat nilai.

     Ia semakin tahu, semakin seseorang berbuat terlalu baik, ia justru akan semakin diinjak-injak oleh orang lain. Apalagi, jika ia tidak melawan atau memberontak pada orang-orang yang menganggunya. Ia merasa sepertin semut, tidak pernah ingin mengganggu orang lain, namun akhirnya selalu diinjak juga, bahkan sampai remuk batinnya karenanya. 

     Lantas, ia berpikir lagi, apa lengkap hidup kita jika kita tidak mempunyai teman dekat? Memang, semakin banyak teman kita terlihat semakin baik, namun terkadang tidak juga sesuai kenyataannya. Ketika kita berkumpul, kadang kita tidak bisa membaur, namun ketika kita tidak ikut berbaur, apakah ada kemungkinan bahwa kita yang menjadi bahan pembicaraan?

     Pemikiran anak ini memang bagus, karena pikiran ini membutuhkan penerapan sendiri untuk menjawabnya. Ia pun mengira, kita cukup membutuhkan satu teman dekat yang setia daripada seribu teman yang berkemungkinan menjadi pengkhianat baginya dihari kemudian. So, tunggu apa lagi? Introspeksi diri dari sekarang untuk meminimalisir kekurangan agar kita lebih dihargai orang lain. 

     Lantas, jika gagal meminimalisirnya, apa kita tidak akan punya sahabat? Tentu tidak, kita akan punya sahabat apabila mereka bisa menerima kekurangan sahabatnya. Sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa menerima apapun yang kalian punya. 

     Mengapa Allah menciptakan pohon kaktus? Allah ingin memberi pelajaran kepada umatnya mengenai sesuatu.

     Suatu hari, seorang anak kecil perempuan meminta setangkai bunga melati yang indah, namun Allah justru memberikannya satu pot tanaman kaktus yang berduri itu, dan aku tak bisa menolaknya. Kaktus itu harus kita terima. Tak lama kemudian, kaktus itu tumbuh memiliki bunga yang lebat dan sangat indah. 

     So, Allah kadang tidak meridhoi apa yang kita inginkan, namun Allah punya rencana yang lebih baik untuk menggantnya. Allah akan memberikan solusi terbaik untuk hambanya ketika mereka mengalami keterpurukan. 

     Wassalamu'alaikum wr wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar