Suatu hari, hidup seorang anak laki-laki yang mudah terpancing emosi dan melampiaskan amarah, dan juga sering sekali memaki orang lain semasa ia marah. Ia memiliki ayah yang tahu akan kebiasaannya tersebut. Ayahnya akhirnya membuat kesepakatan bahwa ia harus memaku papan yang ia berikan apabila ia marah. Dan, ayahnya memberi papan dan paku tersebut.
Hari pertama, anak itu telah memaku papannya dengan lebih dari 50 paku. Namun, ada sesuatu yang lebih baik. Paku yang ia tancapkan tiap harinya bertahap mengurang seiring sikapnya yang kini mudah mengendalikan emosinya. Sejak itu, ia juga merasa bosan memaku papan, sehingga ia memilih untuk tidak marah.
Ketika ayahnya selesai dari kesibukan, ia memberitahukan sang ayah bahwa ia sudah seminggu tidak memaku papan lagi. Ayahnya mengusulkan untuk mencabut semua paku yang telah ia tancapkan di papan tadi. Setelah sang anak mencabut semuanya, si ayah pun bangga bahwa ia sudah tidak pernah menancap paku di papan lagi.
Ayahnya seolah memberi kode kepada anak tadi untuk melihat lubang di papan. Ia memberitahukan itu kepada anaknya, bahwa papan itu tak bisa sama lagi seperti sebelum ditancapkan paku. Sang ayah berkata: "Ketika kamu melakukan suatu kemarahan, perbuatanmu itu telah menimbulkan bekas di hati seseorang. Perbuatan maaf tak akan berpengaruh, sama seperti saat kau melepaskan paku itu. Paku itu hilang, bukan? Namun masih meninggalkan bekas.".
Untuk itu, sebagai manusia, meskipun kita punya hak untuk mempertahankan diri kita, namun, kita juga punya kewajiban untuk menjaga perasaan orang lain. Acuhkan saja mereka yang sering menyakitimu, tak perlu dibalas. Jika kamu mampu membalas dengan kebaikan, insya Allah, Allah akan memberi pahala yang besar untukmu.
Marah bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah. Bukannya selesai, masalah bisa jadi lebih besar. Selain merugikan fisik dan psikis, marah juga dapat memperluas konflik seperti yang tadi sudah diumbar. Tentu saja, jika kalian mau, kalian bisa mengatasi kemarahan tersebut.
Kita mulai dari sesuatu yang terlihat sepele, namun ini adalah cara paling mudah untuk mengantisipasi kemarahan. Ucapkan taawudz, karena, kita marah apabila setan mendorong kita untuk melakukannya.
"Dua orang saling mengejek didekat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, lalu salah satu darinya mulai marah. Nabi memandang kepadanya dan berkata: Sungguh, aku ingin mengajari suatu ucapan yang seandainya ia ucapkan tentu hal itu (kemarahannya) akan hilang darinya. Yaitu, A'udzubillahiminasy syaithaanirrajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)."
[ HR Muslim ]
Yang satu ini juga terlihat mudah untuk dilakukan, namun akan menjadi sulit ketika akan ada diposisi marah. Coba diam dan tidak banyak bicara. Semakin banyak kita bicara, kita akan menuai banyak dosa, karena kemungkinan besar kata-kata yang kita ucapkan bukanlah kata-kata yang baik.
"Apabila salah seorang diantara kamu marah, maka diamlah!"
[ HR Ahmad ]
Lalu, duduk apabila kamu berada dalam posisi berdiri. Dan berbaringlah ketika duduk belum mampu menenangkanmu.
"Maka apabila salah seorang diantaramu marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Apabila masih marah, berbaringlah."
[ HR Abu Daud ]
Keempat, cobalah mengambil air wudhu apabila ketiga cara diatas belum cukup berhasil.
"Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api, dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila salah seorang diantara kamu marah, maka berwudhulah."
[ HR Abu Daud ]
Terakhir, selalu ingat kepada Allah SWT, karena dengan mengingatnya, kita akan lebih tentram.
".. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
[ QS Ar-Rad 13:28 ]
La taghdob wa lakkal jannah.
Wassalamu'alaikum wr wb.
Wassalamu'alaikum wr wb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar