Minggu, 23 November 2014

Apakah Persahabatan Dibangun Dari Kebutuhan?

     Assalamu'alaikum wr wb. Untuk sepantaranku, kalian mungkin hanya punya sedikit waktu dirumah, sebagian untuk tugas, sebagian untuk hal lainnya yang perlu sedikit mendapat perhatian, dan sahabat adalah bagian sisanya. Waktu dengan sahabat dibanding hal lainnya bak perbandingan laut dan darat. Namun, anak remaja suka sekali mempermainkan status ini, hingga menyakiti temannya.


     Aih, rasanya ingin kembali ke masa kecil lagi ketika sudah menggunakan seragam putih abu-abu. Waktu itu, kita tidak tahu apa itu tersinggung, atau bahasa-bahasa 'gaul' lain yang bahkan sudah banyak digunakan anak kecil. Tekanan pertemanan anak kecil tentu jauh lebih kecil ketimbang anak-anak remaja seperti saat ini.

     Seperti rumus fluida statis, dimana tekanan berbanding lurus dengan ketinggian. Seperti kehidupan kita, semakin kita beranjak naik lebih tinggi, hal-hal yang menggoyahkan mental tentu lebih tinggi. Tak hanya tekanan dari luar, namun tekanan dari dalam juga ada diantaranya. Salah satunya, orang terdekat sendiri.

     Siapa lagi orang yang menghabiskan waktu kita hampir seharian kalau bukan sahabat? Orang yang selalu menemani kita dari bel sekolah berbunyi, hingga bel sekolah berbunyi terakhir kalinya hari itu, bahkan berlanjut hingga kantung mata nampak. Apapun dibicarakan layaknya seorang sahabat.

     Seperti apa yang kalian tahu, menurut ilmu sosial, manusia merupakan makhluk sosial. Mengapa? Manusia itu membutuhkan orang lain. Manusia juga tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain, mungkin itulah mengapa manusia saling membutuhkan.

     Sisi lain dari persahabatan adalah pengetahuan yang berimbas kepada masa depan. Tak jarang, persahabatan goyah hanya karena sebatas pengetahuan. Mungkin, hal itu menjadikan remaja hanya mencari teman berdasarkan kebutuhan. Namun, dia belum tentu mau membantu sebayanya jika dimintai bantuan.

     Sahabat selalu membelamu ketika dirimu diinjak. Sahabat ibaratkan orang yang melihat rumah tetangganya penuh bebatuan, namun ia berhasil menemukan rerumputan, bukanlah orang yang menemukan bebatuan di antara rerumputan.

     Sahabat adalah orang yang memandangmu dari sudut pandang yang baik, dan bisa jadi melenceng dari sudut pandang orang lain. Merekalah beberapa orang istimewa diantara penghirup gas oksigen lainnya. Entah apa jadinya jika mereka tiba-tiba menghilang dari kehidupan.


     Asas kebutuhan tadikah yang membuat seseorang akan kehilangan sahabatnya? Apakah sebuah rumah bisa dibangun apabila fondasinya lemah? Tentu tidak, bukan? Haruskah kita memanggil orang lain hanya karena kita butuh, namun tidak mau melayani ketika mereka membutuhkan kita walau melalui hal yang kecil.

     Persahabatan tentunya harus dijunjung tinggi nilainya apabila kita juga mau dihargai. Persahabatan bukan soal kebutuhan, tapi soal selalu bersama dalam melakukan apapun. Tetaplah menjadi teman disaat kita sudah tidak membutuhkannya, dengan merasa selalu membutuhkannya. Dengan hal ini, persahabatan bisa dibangun, bukan hanya datang dengan sejuta harapan tanpa bantuan.

     Walau kalian tidak ingin punya sahabat, kalian bisa menjadi teman biasa atau setidaknya menjaga perasaan teman kalian sendiri. Jika kalian butuh kalian datang, dan jika kalian dibutuhkan, kalian siap didatangi. Sambunglah silaturahmi seperti reaksi kesetimbangan yang arah dan laju reaksinya bolak-balik dan sama, bukan sekedar reaksi heterogen.


     Wassalamu'alaikum wr wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar