
Indonesia mulai mengenal kurikulum berbasis kompetensi sejak tahun 1994. Di kurikulum ini siswa masih belajar dengan jangka caturwulan, dan 2004 mulai diganti menjadi semester. Pada kurikulum kali ini, siswa (terutama SMA) dituntut lebih aktif dalam pembelajaran sehingga mengurangi peran guru dari pemberi materi menjadi fasilitator.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan diluncurkan pada tahun ajaran 2007/2008. Pada kurikulum ini, guru sedikit banyak mengajar penuh dikelas disertai dengan tugas tigas tiap materi yang dinilai melalui SKL. KTSP juga sepenuhnya dikendalikan sekolah tanpa intervensi pemerintah. KTSP disusun sesuai kebutuhan dan kemampuan serta lingkungan masyarakat.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang sangat mirip dengan KBK. Di kurikulum ini terdapat berbagai aspek dalam penilaiannya, mulai dari pengetahuan, keterampilan, sikap, dan psikomotorik di berbagai mata pelajaran. Kurikulum ini memaksa siswa mengeluarkan potensi yang dimiliki dan membuat siswa menggali potensi yang tidak mereka punya dibidang lain. Kurikulum ini membuat siswa menjadi pada posisi sentral dan aktif belajar, dan guru juga hanya sebagai fasilitator.
Berikut perbedaan KBK, KTSP, dan Kurikulum 2013
KBK
1. SKL diturunkan dari SI
2. SI diturunkan dari SKL Mapel
3. Kompetensi diturunkan dari mapel
4. Tematik untuk kelas 7-8 atau 10-11
5. Pengembangan kurikulum sampai pada silabus
KTSP
1. Pengembangan kurikulum sampai pada kompetensi dasar
2. Tematik untuk kelas 1-3, 7-9, dan 10-12.
Kurikulum 2013
1. SKL diturunkan dari kebutuhan masyarakat
2. SI diturunkan dari SKL
3. Semua mapel berkontribusi terhadap sikap, keterampilan, dan pengetahuan
4. Semua mapel diikat kompetensi inti
5. Tematik untuk kelas 1-6 berdasar kompetensi
Dengan itu, jam belajar siswa di kurikulum 2013 lebih banyak ketimbang KTSP. KTSP juga lebih menekankan sistem pengetahuan, berbeda dengan 2013 yang lebih menekankan softskills dan hardskills yang terlibat dalam 3 aspek penilaian. TIK kini menjadi media pelajaran, bukan menjadi mata pelajaran seperti pada KTSP. Disinipun BK lebih mengembangkan potensi siswa ketimbang menyelesaikan masalah siswa, seperti fungsi kebanyakan BK pada KTSP.
Sedikit menyampaikan kritik bahwa kurikulum 2013 sedikit membuat siswa menjadi terbebani dan sangat merasa jam istirahat belajar pun jadi berkurang. Siswa kini bukan lagi mempelajari materi, namun kini mencari materi. Siswa tak lagi melakukan banyak percobaan, tapi banyak diperlakukan sebagai percobaan. Siswa kini tak lagi merasakan jam bersama keluarga di rumah, tak lagi dapat merasakan penyegaran setelah 6 hari belajar disekolah termasuk pramuka didalamnya.
Siswa kini harus memiliki pegangan gadget sebagai alat pembelajaran. Hal ini membuat kesenjangan antar siswa menjadi terlihat. Ketika siswa mulai menggunakan gadget, dan yang tidak memilikinya harus susah payah mencari bacaan kepada yang memiliki gadget. Hasilnya, ketika siswa tidak belajar, mereka kecanduan gadget sehingga mereka melupakan hal disekitar mereka. Inilah jaman dimana teknologi menjadi penolong dan pembunuh siswa secara bersamaan.
Penilaian di kurikulum baru menjadi agak rancu. Siswa yang dulu memiliki standar 0-100 kini hanya memiliki standar 0-4 layaknya mahasiswa, namun dalam bentuk kelipatan 1/3 (0.33). Konversi nilai yang dilakukan menjadi sangat aneh.



PTN menghargai perbedaan nilai koma, sehingga terkadang siswa tidak bisa masuk PTN favorit karena perbedaan koma. Jika melihat tabel tadi, apakah yang mendapat nilai 97 akan sama hasilnya dengan siswa yang mendapat nilai 100? Apakah nilai 20 akan sama dirapot dengan nilai 50?
Apakah mereka membuat wacana bahwa UN di kelas 12 dipindahkan ke kelas 11? Dengan itu, materi kelas 12 akan turun ke kelas 12 menjadi ke kelas 11 atau 10 dan menurunkan dan/atau menukar materi kelas 12 dan 11 ke kelas 10? Apakah maksudnya membuat siswa UN sebanyak dua kali di kelas 11 dan 12? Apa UKK tak cukup buat kalian? Apa masih tak percaya kami meraih nilai dari berbagai usaha halal yang kami lakukan?
Akankah pemerintah sadar dengan hal yang dapat menghancurkan masa depan siswa ini? Apa okunum okunum penguasa yang jahat itu sadar bahwa mereka melakukan percobaan-percobaan gila kepada siswa. Apakah kalian pernah melihat bayi sudah bisa makan sendiri dengan melihat bayi lain makan? Kalian bisa melihat analogi itu pada kami, kalian para penguasa.
Beruntunglah siswa siswa yang kini sudah naik ke kelas 12 ataupun mereka yang lulus dari KTSP maupun KBK. Tapi, terkadang ada hikmah lain yang bisa kita ambil dari jahatnya pihak penguasa atas semua ini. Entah apa lagi percobaan yang akan dilakukan kemendikbud lain selanjutnya.
Wassalamu'alaikum wr wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar