Sabtu, 30 Agustus 2014

Dear Kurikulum 2013..

     Assalamu'alaikum wr wb. Seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya tentang kurikulum, kali ini saya akan membahas keluhan-keluhan siswa-siswa yang pernah dikeluhkan.




     Kurikulum ini mendidik kita untuk lebih mandiri. Mengapa kalian begitu kejam memperlakukan kami mempelajari hal-hal yang belum pernah diajari dan belum pernah kita lakukan? Apakah setelah kalian keluar dari uterus ibu kalian, kalian langsung bisa berkata 'mama'? Tentu tidak. Begitupun kami.


     Kemendikbud memang seperti tak memikirkan misi diatas visi. Misi adalah cara bagaimana mencapai visi, dan visi kemendikbud salah. Parahnya lagi saat kita tak menguasai materi itu, kita harus menyampaikannya di depan kelas dan apabila kita melakukan sedikit kesalahan, kita dipojokkan. 

     Sedikit-sedikit kita membuat PPT dan menjelaskannya. Ketika kita tidak mengerti dan itu pelajaran eksak, tentu kita bingung. Saya yakin, kalian semua pernah SMA dan beberapa dari kalian mengambil jurusan IPA. Apakah kalian mampu menjelaskan cara menyelesaikan soal pada pelajaran eksak? 


[ Soal dan pembahasan fisika bab gelombang kelas XII by istanafisika.wordpress.com ]


[ Soal SNMPTN Kimia 2012 by www.zenius.net ]

     Atau kalian mengerti isi-isi tulisan ini?


     Semua siswa cukup merasa dirugikan dengan cara belajar mandiri ini, apalagi anak IPA. Fisika bukan pelajaran yang bisa kita kuasai dengan hanya membaca rumus. Satu soal fisika bisa terdapat 2 sampai 3 rumus, dan terkadang butuh bantuan orang yang menguasainya. 

     Kimia juga bukan pelajaran mudah. Pelajaran ciri khas IPA ini membutuhkan kecerdikan otak untuk memainkan konsep berdasar ketentuan ditambah kemampuan menghitung angka yang tidak valid. Jelas, pelajaran ini tidak akan mudah dimengerti apabila sesama murid yang menjelaskan. Lantas, untuk apa sekolah menggunakan jasa guru? Kini, kita lebih tepat disebut kerja kelompok, bukan belajar. Guru kadang hanya menilai kita lalu mereka kadang tertidur.


     Ketika sudah begini, les adalah salah satu cara keluar dari masalah. Namun, hal ini seperti menyelesaikan masalah untuk mendapat masalah baru. Biaya les itu mahal. Tak semua orang bisa mengikuti les. Lantas, apakah kurikulum ini hendak menunjukkan kesenjangan ekonomi antar siswanya?

     Mencari materi di internet menjadi salah satu contohnya. Tak semua siswa SMA di Indonesia mampu membeli gadget-gadget canggih pengakses internet. Lantas, mengapa kita harus mencari materi apalagi ilmu eksak di internet, jika kita lebih paham dengan tulisan guru kita yang seperti rumput itu di papan tulis?

     Mengganti pelajaran-pelajaran penting dengan pelajaran yang justru tidak ada hubungannya dengan program pembelajaran tersebut. Apa maksud mengganti TIK, PLH, dan bahasa asing dengan menambah pelajaran seperti prakarya, memberi lintas minat pelajaran dari program lain dan menggandakan jam MTK dengan membaginya menjadi Matdas dan MTK IPA atau peminatan. Mungkin untuk mengurangi waktu kita dirumah saja.

     Selama 6 hari, kami belajar selama 47 jam pelajaran yang terdiri dari 15 mata pelajaran yang keluar di ujian tiap semesternya. Dan ketika tidak optimal hasilnya, kita tentu kecewa. Ini karena jam bebas sangat sedikit. Masa remaja yang harusnya menikmati masa mudanya kini harus terbelit di hal-hal seperti ini. Bagaimana mau bermain, mau beristirahat saja susah.


     Guru juga merasakan rumitnya pekerjaan mereka. Walau mereka hanya menjadi fasilitator, mereka kini tak hanya menilai hasil tes dan praktek saja. Ada nilai ketermpilan, sikap, dan psikomotorik kini. Ini mengharuskan mereka menghafal semua nama murid beserta muridnya yang diajar dikelasnya tersebut.

     Kita mengerti tujuan kalian baik. Namun, tak ada tujuan baik yang diraih dengan cara yang kotor. Lantas, inikah cara kalian memajukan pendidikan di Indonesia?

     Terimakasih, Wassalamu'alaikum wr wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar