Mudik.
Mudik di Indonesia biasa di mulai dari 10 hari terakhir dimana kebanyakan orang juga melakukan i'tikaf. Mudik tentu saja identik dengan satu hal bernama MACET. Jelas, beban jalan tidak kuat untuk menghadapi ratusan ribu pemudik yang ada di Indonesia ini.
Seperti air yang tumpah pada bejana, itulah bayangan pemudik terhadap fasilitas jalan yang ada. Air tumpah karena volume air lebih besar dari volume bejana, maka jalan padat merayap disebabkan oleh lebih banyaknya kendaraan daripada muatan jalan itu sendiri.
Terkadang, di bumi pertiwi ini jalur padat untuk mudik dipaksakan bertambah untuk arah yang padat merayap, atau menggunakan sistem buka-tutup seperti di Puncak, Bogor, Jawa Barat.
Strategi apapun kadang dilakukan umat pemudik. Indonesia adalah negara penganut hukum rimba, jadi, mereka berani melakukan apapun untuk keuntungan mereka walau harus merugikan orang lain. Tak jarang, para korban pun berjatuhan. Berdasar salah satu TV swasta, hingga detik ini sudah 310 orang tewas karena mudik di tahun ini. Mulai dari ketidakmampuan fisik, keterbatasan kualitas kendaraan, hingga keteledoran sesama pemudik.
Sejak arus mudik dimulai, jalan selalu padat dan berangkat di hari apapun akan selalu mengalami kepadatan. Kesabaran diuji ketika memasuki jalan padat. Akan lebih rumit ketika jalur alternatif juga mampet dan mau tidak mau kita harus menghadapi padat jalan.
Tapi, bukan mudik namanya jika kita tidak menghadapi kepadatan jalan terhadap kendaraan lain. Jalan yang sepi akan membuat kita sama saja seperti melakukan perjalanan biasa. However, itulah sensasi mudik.
Hindari hal-hal yang dapat membuat kita mendapat hal yang tidak kita inginkan saat perjalanan.
Berikut sejumlah cara yang dilakukan agar mudik tetap bisa mereka jalankan.
Semoga mudik selanjutnya dapat ditunjang dengan fasilitas yang lebih baik lagi.
Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar