Selasa, 29 Juli 2014

Ketika Sabar Bukan Lagi Solusi

     Assalamu'alaikum wr wb, hidup ini memang penuh dengan berbagai cobaan dan ujian. Hidup bukan cuma kesenangan ataupun cinta, tapi ada juga kesedihan dan nestapa didalamnya. Berbagai cara dilalui untuk melewati cobaan.




     Tak ada satu manusiapun yang sempurna dan tidak memiliki kekurangan yang Allah ciptakan di alam semesta ini. Allah menciptakan manusia dengan jumlah yang sangat banyak untuk saling berinteraksi satu sama lain. Ketika memulai interaksi, disitu hubungan dimulai. Entah itu teman, sahabat, pacar, atau keluarga.

     Interaksi manusia layaknya interaksi makhluk hidup umumnya yang dipelajari dalam biologi, yaitu simbiosis mutualisme, komensalisme, maupun parasitisme. Semua manusia ingin interaksi mereka menjadi mutualisme karena mereka tidak mau dirugikan dengan tidak merugikan orang lain. Tapi, bagai ranting di dalam hutan yang tidak sengaja bergesek, kadang manusia tidak sengaja melakukan kesalahan terhadap interaksinya. Jika ranting bergesek membuahkan api, kesalahan manusia bisa jadi perselisihan.


     Pihak yang bersalah bisa jadi khilaf, namun bisa jadi juga dia memang ingin merusak relasinya dengan orang lain tersebut. Terkadang, meskipun kesalahan tidak disadari, lawan relasi tersebut justru merasa tersinggung dan memberi sejumlah kode bahwa dia tersinggung. Dan, semua bergantung dari mereka apakah mau menyelesaikan masalah atau menyelesaikan relasi mereka.

     Sabar mungkin adalah kata yang terlihat mudah untuk dibaca dan didengar, dan penerapan sabar bukan sesuatu yang mudah. Satu tekanan mungkin belum menguji kesabaran, namun jika banyak atau sering seseorang ditekan, mungkin kasusnya akan beda. Manusia juga punya nafsu, yang tidak mudah juga untuk dikendalikan.


     Jika nafsu dimatikan, seorang manusia tidak akan punya keinginan dan akan menuruti apa yang orang lain ucapkan terhadapnya. Nafsu hanya cukup untuk dikendalikan. Ketika lawan relasi kalian membuat kalian tersinggung, cukuplah kalian bersabar. Kembali lagi, ketika sabar tidak bisa ditahan, janganlah kalian meluapkan emosi, kendalikan nafsu, tarik nafas, lalu tenang kembali sambil mengucap dzikir kemudian berwudhu.

     Kesabaran manusia memang tak mengenal batas, namun terkadang manusia itu sendiri membatas-batasi kesabarannya sendiri. Masalah yang langsung menyinggung hati memang hanya bisa diselesaikan oleh waktu jika sudah tidak sanggup menahan rasa sabar. Seseorang butuh menenangkan dirinya untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya kedepan.

"Jangan biarkan kemarahan sementaramu membiarkanmu kehilangan seseorang selamanya"
[ Mario Teguh ]


     Orang ketiga memang menjadi solusi yang cukup baik untuk membantu masalah manusia. Sahabat, pacar, maupun orang tua bahkan psikolog didatangi untuk menceritakan unek-unek kita terhadap orang yang membuat kita tersinggung. Kadang, kita menceritakannya dengan penuh perasaan hingga meluap-luap. 

     Kalian harus mengetahui terlebih dahulu mau menceritakan masalah kalian kepada siapa agar tidak salah orang. Terkadang, orang hanya penasaran dan tidak peduli terhadap masalah seseorang. Dan, kalian harus cerdas untuk menempatkan mereka dalam masalah kita. Apakah mereka perlu ikut campur atau tidak. Namun, dengan bercerita ke orang yang benar, hati kita akan jauh lebih baik.


     Jika kalian merasa cukup berani, katakan apa masalah kalian terhadap orang yang menyinggung kalian langsung, tanpa perantara. Buat orang tadi mengerti. Manusia diciptakan untuk berbuat kesalahan dan memperbaiki setelahnya. Sehingga, orang tersebut akan berusaha menghindari kesalahan yang sama. Manusia bukan keledai yang biasa masuk lubang yang sama lebih dari sekali.

     Mintalah maaf. Janganlah kalian malu untuk mengakui kesalahan kalian. Allah selalu memaafkan dosa manusia yang tak terhitung jumlahnya, sehingga bisa menjadi teladan buat sesama manusia untuk saling memaafkan. Tak ada gading yang tak retak kok, hehe.




     Wasalamu'alaikum wr wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar