Uang memang mendatangkan banyak manfaat dalam kehidupan kita, mulai dari membeli barang, menukar barang, dan sebagainya. Kita memang membutuhkan uang, tapi, kita tidak perlu menuhankan mereka.
Banyak sekali pasangan suami istri dengan keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah-nya bercerai hanya karena uang, apapun masalah mereka. Banyak anak menjadi durhaka kepada orang tuanya hanya karena uang. Banyak orang memutuskan tali silaturahminya karena uang. Lebih banyak orang yang menunda ibadahnya kepada Allah S.W.T hanya karena mengejar uang. Dan juga, banyak juga orang yang kerja kerasnya tak tuntas percuma hanya karena segelintir manusia yang hanya menginginkan kesuksesan instan melalui uang.
Uang tentu saja tidak dicipatakan untuk membuat manusia menjadi buta akan kerja keras. Tujuan uang diciptakan bukannya menjadi hasil dari kerja keras? Uang bahkan hampir menjadi parameter sejauh mana prestasi seseorang, dan hanya sedikit orang yang berada di kemampuan ekonomi menengah kebawah yang bisa menyamai prestasi manusia-manusia ber-uang itu. Tidak manusianya lagi, rencananya pemerintah menetapkan tiap sekolah favorit hanya boleh menampung 20% orang kurang mampu, dan ini jelas sangat aneh.
Sebenarnya, uang adalah anak buah dari para anak manusia yang harusnya menjadi alat bantu bagi manusia. Tapi, uang kini menjadi majikan dari para anak manusia tadi.
Sukses jelas juga menjadi keinginan semua manusia yang bernafas di dunia ini. Sukses harusnya diraih lewat suatu proses yang lama, bukan dari tumpukan lembar uang yang dipunyainya untuk sukses
Kalian sudah melihat gambar diatas? Tidak semua orang tidak mampu tidak bisa sukses dan tidak semua orang mampu sukses. Orang tua dari salah satu mahasiswa Universitas Negeri Semarang itu bekerja sebagai pengayuh becak. Mugiyono namanya. Anaknya, Raeni, adalah salah satu mahasiswa Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi di Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang lulus dengan IPK 3.96. Lalu, lihatlah muka berseri sang ayahanda dan juga sang anak yang berasal dari Kendal, Jawa Tengah ini.
Angga Dwi Tuti Lestari adalah mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Biologi di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo. Ayahnya bekerja sebagai petani dan ibunya yang tidak lulus Sekolah Dasar ini lulus dengan berpredikat IPK 3.98. Mahasiswa dengan IPK tinggi ini mendapat misinya setelah menyelesaikan kelas 12 nya. Walau mendapat bidikmisi, dia sempat bekerja sebagai guru les, usaha kecil-kecilan, dan pembuat jus organik.
Alangkah malunya para mafia uang yang hanya bisa mencuri uang negara hanya untuk kepentingan pribadi. Alangkah malunya para anak manusia yang berselisih hanya karena masalah uang saja. Semoga pembaca posting ini tidak menyalahgunakan uang untuk hidupnya, apalagi sampai membuat para pekerja keras mendapat hasil nihil hanya karena mafia-mafia uang negara.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar