Senin, 07 Juli 2014

Flaw and Introspection

     Assalamu'alaikum wr wb, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT dan juga untuk merubah kesalahan atas apa yang mereka buat.

     Manusia, mereka mulai dari sperma yang menjadi nuftah dan berkembang hingga menjadi janin. Mereka adalah makhluk hidup yang hanya belajar. Mereka belajar mendapat gizi, bergerak, bernafas, berbicara, dan menuntut ilmu. Mereka berkembang semakin dewasa. Mereka mulai tahu harus melakukan apa dan mereka tau apa itu benar dan salah.

     Entah mengapa, manusia tetap bisa salah walaupun mereka sudah tau apa itu arti dari suatu kesalahan. Mereka tidak seperti malaikat yang diciptakan tanpa hawa nafsu. Tapi entah apa jadinya manusia tanpa hawa nafsu. Tentu mereka tidak bisa punya kemauan untuk meminta dan melakukan sesuatu.

     Hawa nafsu bisa membuat manusia mendapat banyak keberhasilan, begitupun juga hawa nafsu bisa mendatangkan banyak masalah. Walaupun, kesalahan manusia tak seluruhnya datang dari hawa nafsu, tapi kebanyakan dari mereka datang dari tidak stabilnya hawa nafsu. 

     Kesalahan, adalah suatu tindakan yang merugikan orang lain maupun diri sendiri baik disengaja maupun tidak disengaja. Kesalahan diri sendiri tentu berbuah konsekuensi yang menimbulkan efek jera bagi pelakunya. Kesalahan terhadap orang lain bisa jadi konsekuensi dan juga dikucilkan oleh korban maupun orang lain di pihak korban. 

     Tapi, ibarat api yang selalu padam oleh air, kesalahan pun dapat diredam oleh sebuah kata maaf. Air tidak memiliki hawa nafsu sehingga kasusnya dengan api tentu berbeda dengan kasus maaf terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anak manusia. Seorang manusia tentu wajar punya rasa kecewa terhadap orang yang telah mengecewakannya, walaupun Allah tidak menganjurkan umatnya untuk melakukan dendam. 

.. Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan.
[ Q.S Ali Imran 3:134 ]

     Ketika manusia melakukan kesalahan tidak disengaja, orang lain tentu akan lebih mudah memakluminya dan memaafkannya. Sayang, ketika salah itu disengaja, tidak semua orang rela memberikan maafnya. Allah adalah Al-Afuww yang maha pemaaf. Manusia biasanya ingin jaminan apabila setelah mereka memaafkan. Orang yang melakukan kesalahan harus berusaha menjamin bahwa dia berusaha tidak mengulang kesalahan itu lagi. 

     Hal itu adalah introspeksi. Jika manusia bisa berbuat kesalahan, mengapa manusia tidak bisa melakukan introspeksi juga? Apa semua manusia hanya berbuat kesalahan? Tentu saja tidak. Jika semua manusia pernah berbuat kesalahan, kenapa mereka juga tidak bisa pernah berbuat kebaikan, walaupun itu nilainya sangat sedikit?

Maka barangsiapa manusia yang mengerjakan kebajikan sebesar biji zarrah (biji yang sangat kecil), niscaya dia akan mendapat balasannya. Maka barangsiapa manusia yang mengerjakan kejahatan sebesar biji zarrah, niscaya dia akan mendapat balasannya
[ Q.S Al-Zalzalah 99:7-8 ]

     Lalu, jika Allah bisa memaafkan kesalahan umat-umatnya yang menggunung, mengapa manusia juga tidak bisa melakukan hal yang sama? Introspeksi dari kedua belah pihak memang menjadi solusi dari suatu masalah diantara dua pihak, karena Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan manusia.

     Wassalamu'alaikum wr wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar