
Ada yang membuat kita termangut-mangut dengan pertanyaan itu. Cara setiap orang untuk belajar berbeda, begitupun cara seoseorang yang mengajarinya. Mungkin ini menjadi masalah terbesar bagi siswa/i yang mengalami jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah, atau bahkan mahasiswa/i juga mengalaminya. Ketidakcocokan gaya belajar seseorang dengan pengajarnya kadang membuat seseorang menjadi malas mempelajari ilmunya.
Seperti halnya beberapa pelajaran eksak, sebut saja kuartet saintek; matematika, fisika, kimia, dan biologi. Tidak semua orang suka dengan keempatnya, dan tidak semua orang yang kompeten di bidang itu mampu menyampaikannya dengan baik. Perbandingan keduanya memang terlampau sangat jauh, sehingga membuat pendidikan kita agak terbelakang.
Bukan soal itu saja, mereka akan dihadapkan oleh beberapa ujian yang menguji kepahaman mereka akan pelajaran tersebut. Orang-orang yang menguasai bidang ini mungkin akan tenang, tapi, orang yang tidak? Mereka semua mau lulus. Tapi mari lihat, dengan pemahaman yang berbeda, harusnya orang yang menguasai dan tidak mendapat nilai berbeda jika tidak ada faktor lain didalamnya.
Orang pintar yang cerdas tidak akan membagikan jawabannya kepada orang yang belajar seadanya dan tidak menguasai materi ujian. Enak saja sudah belajar mati-matian menguasai konsepnya, dia tinggal checkcross jawabanku, kadang terpikir begitu. Cara-cara curang inilah yang akhirnya digunakan untuk melewati ujian-ujian tersebut. SBMPTN tahun lalu terkenal dengan kasus joki, UN tahun ini terkenal dengan tersebarnya soal dari PBT kepada CBT sebelum peserta UN CBT melakukan ujian. Kasus pertama membuat pelakunya cukup tenang saja percaya pada joki, kasus kedua? Mereka orang-orang malas cukup menghafalkan jawabannya dan membawa ponsel genggam ke kelas saat ujian dengan soal dan jawaban yang sudah mereka beli itu.
Itu beberapa kasus besar yang bisa saya gambarkan. Kadang, kasus besar bisa terjadi karena orang-orang tersebut sudah berhasil curang di kasus yang kecil, dalam hal ini mungkin mencontek pekerjaan rumah atau ulangan harian, tanpa berniat juga mengerti konsep dan rumus materinya. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apa semua orang curang itu memang tidak pernah berusaha? dan apa semua orang curang diberi kebebasan untuk berkembang?
Terkadang, orang melakukan kecurangan karena mereka selalu dianggap salah oleh orang yang sudah menguasai bidangnya. Masih soal eksakta, kadang, orang curang itu muncul karena usahanya untuk berkembang diremehkan oleh orang yang sudah dianggap ahli di bidang tersebut.
Misalnya belajar fisika. Tentu kalian anak IPA tahu, usaha pada benda dapat dicari melalui perubahan energi kinetik dan potensial. Andai siswa sekolah menengah salah memasukkan rumus, si pengajar akan kesal dan mengata-ngatai muridnya tidak memerhatikan atau berdaya tangkap lamban. Atau, siswa yang sudah menguasai, tapi si pengajar yang perfeksionis menyebabkan siswa malas mengikuti cara belajar si pengajar. Akhirnya, orang yang mengalami dua kasus berbeda itu memutuskan mencontek
Keluar dari kasus akademik, masuk ke kasus yang mengandalkan praktek, semisal mempelajari kendaraan bermotor. Orang yang ahli kendaraan bermotor, dalam hal ini biasanya orang tua, kadang tidak memberi kebebasan pada anaknya untuk mempelajari kendaraan sesuai dengan cara keinginan anaknya. Anaknya padahal sudah menguasai, orangtuanya seringkali bilang belum, yang akhirnya memunculkan dua kemungkinan; anaknya malas belajar lagi, atau, anaknya bakal nekat sekalipun bakal menghasilkan kecelakaan.
Orang yang sedang mengalami perkembangan dalam pembelajarannya akan suatu hal juga akan sebal apabila dibandingkan. Hal ini sangat lumrah terjadi, walaupun tidak semua pembanding mau menyakiti hati muridnya. Namun nyatanya, dibandingkan memang tidak pernah enak. Ah, si A lebih jago matematika daripada si B, si B mah hoki doang kalo ulangan. Ah, aku ga mau si C nyetir mobil liburan kita, aku maunya si D, lebih jago dan nyaman. Nyatanya, hal kecil seperti ini merupakan kriminalitas yang tidak bisa dipungkiri efeknya. Selain memang mental siswa yang lemah, memang kehidupan seperti hendak menguji semua aspek dari seorang manusia.
Minimnya kepercayaan pengajar untuk memberi kebebasan berkembang pada orang yang diajari juga menjadi inhibitor terjadinya kompetensi yang layak untuk seseorang. Masih di contoh mengendarai kendaraan bermotor, sebenarnya, si murid sudah mampu, tapi, si pengajarnya ini seperti mau meremehkan muridnya. Harus selalu diawasi lah alasannya, harus sesuai keinginan pengajar lah, harus ini harus itu harus semuanya lah. Persetan dengan sistem. Harusnya, setiap pengajar kembali ke tujuan utamanya, yaitu membuat muridnya menjadi kompeten. Apalah kompeten tapi terlalu terpaku pada sistem, dan apalah kompeten tapi terlalu diberi kebebasan.
Walaupun blog ini cuma blog yang minim pembaca, walaupun isi entri blog ini juga terselip curhatan, tapi, kami para murid dari para pengajar memohon cara belajar yang terbaik buat kami. Tetap bimbing kami dalam pengawasan, namun, bebaskan kami berkembang, bebaskan kami menemukan cara yang tetap tidak melanggar dasar aturan tersebut. Terimakasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar