Senin, 04 Juli 2016

Ingin Rasanya Mudik Tahun Ini

     Tak terasa memang Bulan Ramadhan sudah tersisa satu malam lagi, setelah sidang isbat menetapkan lebaran jatuh pada Rabu, 6 Juli 2016. Setiap tahunnya, selalu muncul sesuatu yang berbeda saat ramadhan datang. Begitupun saat ramadhan pergi, apapun itu.


     Satu yang selalu muncul menjelang atau setelah ramadhan pergi di negaraku adalah budaya mudik. Pulang kampung, bahasa lainnya. Keluargaku juga melakukannya beberapa tahun kebelakang. Mudik juga dikenal sebagai kemacetan menjelang hari raya. Wajar saja, semua orang hendak pergi ke kampung halamannya, atau menyegarkan diri dari banyak pekerjaan dan meringankan bahu dari beban.

     Kemacetan di perjalanan tak pernah menyurutkan niat para pemudik sedikitpun untuk pulang kampung. Capai fisik dan batin di perjalanan tak cukup menurunkan itikad untuk bertemu keluarga besar di kampung sana. Macet, jauh, lapar, dahaga, empat kata kondisi hilir mudik.

     Soal aku dan keluargaku, kami selalu mudik ke sisi utara jawa tengah, tepatnya Semarang dan Tegal. Dua kota yang memiliki cukup daya tarik untuk dikunjungi. Tegal dengan lengkonya, dan Semarang dengan nasi ayam simpang limanya. Soal mudik, aku sangat antusias, terutama dengan makanan. lol

     Dua tahun ke belakang, kami memang mudik. Tapi, itupun melalui jalan yang panjang dan rumit. Hingga akhirnya, tahun ini kami memutuskan untuk tidak mudik. Menyedihkan memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Dua tahun kebelakang, saudara kami sering mengunjungi rumah kami dan itu menyulitkan kami untuk berlibur, padahal kami juga cukup penat dengan akademik dan pekerjaan.

     Mungkin banyak alasan mengapa kami tidak mudik. Mungkin karena keuangan, mungkin karena tidak ada yang menggantikan kepala keluarga menyetir. Kami mengerti, orang tua kami juga semakin berumur, dan kami sebagai anak harusnya bisa menggantikannya. Aku ingin rasanya menggantikan, tapi, kepercayaan urung diberikan karena aku tidak punya jam menyetir yang banyak. Kadang, aku juga sedih mengapa aku begitu tidak bisa diandalkan oleh keluargaku sendiri. Usahaku juga belum cukup untuk meyakinkan banyak orang. Yha, itulah usaha, ada, tapi jarang diyakini.

     Mungkin karena dengan banyaknya saudara yang mengunjungi rumahku, orang tua kami sungkan pergi mudik. Nenekku memang menetap dirumahku, jadi, ya saudara memang akan mengunjungi nenekku yang berada dirumahku. Padahal, aku berpikir bahwa nenekku juga ingin mudik karena bosan menetap di kamarnya terus.

     Bukannya aku tidak bersyukur, tapi itulah hasrat, itulah nafsu. Tidak pernah bisa dipadamkan, akan selalu ada. Hasratku ingin mudik keluar kota memang pasti pupus tahun ini. Padahal, ini tahun terakhirku menetap dirumah sebelum kuliah nanti. Ingin sekali sebelum aku pergi, aku punya cerita mengesankan sebelum meninggalkan rumah ini. Andai keluargaku menghalalkan mudik, mungkin aku tak mengeluh seperti ini. Aku terlalu lelah, ingin penyegaran.

     Ketika aku check-in path, aku banyak melihat banyak temanku yang mengupdate posisi mereka, mengupdate keadaan jalanan yang padat. bukannya ingin aku tertawakan, justru aku sedih mengapa aku tak bisa pergi seperti mereka. 

     Check-in instagram juga sama, mereka memotret keadaan jalan dengan berbagai caption. LINE tidak mau kalah. Ketika aku chat temanku untuk main, kebanyakan mereka menjawab "udah mudik", "udah di blablabla", dsb. Atau status mereka di timeline yang menunjukkan keadaan jalan yang sudah jelas-jelas macet. Iri rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Semoga keluarga kami tahun depan dapat bergulir mudik ke kampung halaman orang tua kami. Semoga kami bisa mudik tahun depan, semoga kemacetan terurai. Hehehehehehehe:D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar