Hei, selamat malam. Aku punya beberapa hal yang ingin kusampaikan tentangku dengannya, kimia. Yaa, tak pernah terfikirkan aku akan menyukainya. Sewaktu aku berada di SMP, aku begitu menyukai matematika sehingga hampir semua guruku mengetahuinya. Namun, matematika SMA begitu berbeda. Begitu rumit, dan sepertinya tidak ada pelajaran yang akan aku suka dan aku andalkan dalam masa-masaku di SMA.
Saat itu, kelasku kedatangan beberapa kakak-kakak alumni sekolahku, dan mereka kuliah di Universitas Indonesia. Dan salah satu dari mereka ada yang mengambil jurusan teknik kimia. Aku begitu terinspirasi mendengar apa apa saja yang dipelajari disana. Dan yaaa, sejak mendengar atau melihat sesuatu tentang kimia, aku mulai tertarik terlibat didalamnya.
Sejak itu juga, aku mulai serius mendalami kimia. Awalnya, aku menghitung molekul relatif saja tidak bisa. Begitupun membuat reaksi, aku tidak pernah bisa membuat reaksi dengan baik. Aku mulai fokus di les, mulai meminta diterangkan lebih kepada guruku di les. Dan yaa, alhamdulillah aku bisa sedikit-sedikit belajar hingga pernah mendapat nilai sempurna saat ujian harian.
Beranjak ke kelas 11, aku ragu aku masih bisa suka pelajaran ini atau tidak. Namun, begitu mendapat guru les dan guru di sekolah yang enak dan memberi aku beberapa petuah, ternyata kimia semakin menyenangkan. Ternyata stoikiometri yang lumayan aku kuasai itu tak berhenti di kelas satu saja. Ilmu itu justru bisa digunakan untuk bab bab selanjutnya yang ada di kelas 11. Namun, tiga kali remedial menjadi nodaku dalam pelajaran ini.
Semester empat di SMA mungkin masa-masa aku sangat sangat mencintainya. Aku begitu senang kalau bisa mengerjakan soal asam basa garam, walau aku cuma mengingat konsep dan tahap mengerjakan soal yang aku dapat di les dan guru sekolahku. Setelah itu, aku bisa membagikannya kepada teman-temanku di kelas atau teman-temanku di kelas lain. Sehingga setidaknya, mereka tidak perlu repot repot mencontek saat ulangan karena sedikit terbantu oleh ilmu-ilmuku.
Semester ini juga memberiku beberapa pengalaman berkesan. Aku dilibatkan dalam tim olimpiade kimia di sekolahku dan aku berlatih bersama tim yang tahun lalu sudah mengikuti lomba tingkat kota ini. Aku belajar banyak dari mereka, terutama materi kelas 12 dan materi lainnya. Dan aku mempunyai teman di tim olimpiade yang tak lain adalah adik kelasku. Dan akhirnya, hari H lomba itu datang. Aku mengerjakan soal sebisaku, PG dan narasi esai beranak. 7 jam setelah itu, pengunguman lomba. Aku tidak lolos ke provinsi, aku berada di peringkat 9 dengan 40 poin dari 10 poin PG dan 30 poin esai. Ternyata 8 orang dari kotaku yang dikirim ke tingkat provinsi. Dan peringkat diatasku cuma beda 1 poin denganku. Hm:(((
Setelah melupakan nasib kurang beruntungku, aku kembali dari dispensasiku ke kelas dengan mempelajari larutan penyangga. Tertinggal bab asam basa dan hidrolisis untungnya terbayar hingga materi kelas 3 SMA selesai. Aku pulang membawa materi yang tidak aku dapat dikelas serta seluruh materi SMA yang disampaikan teman-temanku dan guruku di tim olimpiade. Walaupun aku jadi agak kurang di pelajaran lain.
Setelah melalui kelas 2 SMA yang begitu menjadi tahun terbaikku, aku masuk ke tahun terakhirku berada di SMA. Guruku di sekolah berganti, walau kami masih suka akrab saat bertemu, dan guru lesku untungnya tidak ganti. Aku sempat kesulitan di bab sifat koligatif, bahkan satu kelas tidak lulus ulangan bab itu. Untungnya, elektrokimia mampu memperbaiki dan menutupi nilai bab sebelumnya di rapot bayangan hm:) Aku cukup suka bab-bab pelajaran ini yang dimana kita cukup memegang beberapa konsep, namun kita bisa menggunakannya untuk semua soal di bab itu. Dan yaaa, rapot semester 5 ku cukup menyenangkan hasilnya.
Semester 6 ini ku terfokus dengan TO TO dan intensif UN. Aku menyicil juga untuk belajar soal soal SBMPTN, terutama kimia. Tempat lesku juga memberi modul soal dan konsep UN yang digabungkan dengan SBMPTN. Jadi, aku sudah lebih terorientasi belajar untuk SBMPTN dibandingkan untuk TO dan UN.
TO tingkat kotaku tidak begitu menyenangkan. Jumlahnya sangat kecil, cuma 361,0. Tapi aku berusaha, aku mulai mengurangi jam belajar kimiaku untuk menutupi TO matematika dan biologiku yang sangat hancur HAHA, sementara jam fisikaku tetap karena nilainya sudah sesuai ekspektasi. Ujian sekolah dan ujian nasional begitu saja kulalui, dan aku tau kemampuan kimiaku berkurang terutama soal soal hafalan. Walau memang nilai fisika mtk dan biologiku tertutupi. Aku merasa cukup puas dengan nem 459,5 dengan nilai kimia 82,5 hehehe. Sekarang, ceritaku menghadapi SBMPTN.
Dua hari setelah UN, aku bertemu TO SBMPTN keduaku setelah TO UI yang cuma 26,67%. Yaa, hasilnya aku dapatkan 34,5% dengan TKD benar 16 hasil dari kimia benar 10, mat IPA, fisika, dan biologi masing masing 2. Dua hari setelahnya, TO SBMPTN kembali dan hasilku naik drastis, yaitu di angka 42,7%, walau dua TO di lesku itu aku selalu berada di posisi kedua. Hehehe.
Sehari setelah TO ku di tempatku biasa les, aku dikarantina untuk les di daerah cisarua, di Cansebu Amazing Camp Resort, di Cisarua sana. Heheh. Aku cukup minder mengingat teman karantinaku kebanyakan berasal dari sekolah favorit di kotanya. Ditambah lagi tes diagnostikku paling rendah disana:(( Namun, aku harus berubah, edan haha. Aku belajar banyak sama mereka, dan guru guru yang ada disana. Aku terus mengeruk kemampuan mat IPA dan fisika dan belajar biologi sedikit sedikit. Karena ternyata, SBMPTN kimia lebih sederhana daripada soal UNnya. Hobiku di TO SBMPTN cuma satu, tidak teliti. Oh ya, aku sangat bercita cita masuk SF ITB dan dengan cara ini mungkin bisa terwujud:))
Seminggu pertama disana, karantina itu menggelar TO. Tak kusangka, dengan belajarku yang tak sekeras mereka, aku bisa mendapat nilai tertinggi. Yaaa, 38,17% memang tidak bagus, tapi itu start yang cukup bagus. Ya, aku tau hal itu cukup mengagetkan beberapa guru dan temanku disana._. Tapi yaa, tugasku selanjutnya adalah mempertahankan ini semua dan meningkatkannya.
Seminggu selanjutnya, aku cuma belajar tiga hari, karena dibawah gunung, aku harus menyelesaikan administrasi dan ikut acara promnight. Aku tertinggal banyak pelajaran walau memang hal hal seperti prom itu begitu nikmat untuk dilakukan. TO ku terjun bebas di angka 34,5% dimana mat IPA dan fisika benar 2 salah 3, biologi benar 6 salah 6, kimia benar 10 salah 3. Salah 15 ini yang membuatku harus merubah pola belajar ditambah TPA ku yang berantakan.
Minggu ketiga ini lesku terhambat oleh perpisahan SMA. Namun itu cuma satu hari, dan aku bisa mengejar materi di jam tambahan itu. Oh ya, di minggu ketiga karantina ini, ada pengunguman SNMPTN dong:( Entah aku keterima atau tidak di kimia UI. Dan yaaa, SNMPTN tidak berada di pihakku. Aku pun semakin fokus belajar SBMPTN, dengan zenius, teman-temanku, serta guruku di karantina. Saat itu, aku begitu bingung memilih prodi yang aku pilih di SBMPTN.
Setelah kembali di pelepasan SMA, aku berjanji fokus karantina hingga SBMPTN. Dan aku masih bingung memilih prodi apa. Oh ya, TO terbaruku cukup bagus, sekitar 43,87%. Guru kimiaku di karantina lulusan biokimia IPB, dan dia cerita banyak tentang prodi itu saat dia kuliah. Aku begitu tergiur, apalagi begitu mendengar ceritanya. Orangtuaku sempat menolak karena aku anti-biologi, namun aku berargumen mengapa mereka membolehkanku memilih SF jika biokimia tidak boleh. TOku tidak memadai PG SF ITB, jadi kuputuskan memilih biokimia IPB dengan kimia IPB dan UNY sebagai pilihan selanjutnya.
Baru saja dua hari finalisasi SBMPTN, orangtuaku memberi tahu kalau aku pernah mendaftar PPKB UI, semacam jalur undangan yang dibuat oleh UI, dan.. aku keterima yey. Jadi, aku menghentikan karantinaku, dan melupakan teman-temanku yang memberi banyak kesan serta guru guru yang sudah membimbingku di karantina. Malam setelah PPKB itu diumumkan, aku turun gunung kembali ke kota hujan.
Aku kembali ke tempat lesku yang sudah 5 tahun aku tempati dan aku menceritakan semua kepada temanku disana. Dari nilai TO yang roller coaster, teman-temanku disana yang kadang masih belajar sebelum aku tidur dan setelah aku bangun shalat malam, dan bermain-main naik turun jalanan licin di puncak. Dan alhamdulillah keberadaanku masih disambut baik oleh guru-guru dan temanku di lesku.
Seminggu berlalu, salah satu teman lesku meminta aku mengajari mereka kimia. Yha, untuk SBMPTN. Aku tak terbayang sebelumnya harus mengajar SBMPTN, dan mereka seangkatan denganku. Aku mungkin pernah mengajar kimia, tapi itu adik kelas. Dan yaaa, it's a brand new challenge.
Hari pertamaku mengajar SBMPTN, aku mengajarkan kimia secara dasar, apa itu hukum dasar dan konsep mol. Aku percaya, dengan itu, soal bab apapun bisa mereka serap. Aku mengajarkan mereka konsep tiap soal TO yang aku bahas kepada mereka. 15 soal dimana aku harus menerangkan dalam waktu 90 menit. Hari pertamaku mengajar, aku merasa terlalu cepat untuk mereka, dan aku coba ubah di keesokan harinya.
Aku memberikan soal karantinaku kepada mereka, dan aku coba bahas dengan lebih lambat. Dan alhamdulillah, yaa kulihat mereka cukup paham. Hari terakhir aku mengajar mereka, aku cukup mengulang sedikit konsep dan sedikit soal agar mereka tidak terlalu stres materi karena SBMPTN saat itu tinggal 4 hari lagi.
Selain mengajar akhwat, aku juga mengajar ikhwan. Kemampuan menyerap materi mereka sama, dan cara menerangkanku juga sama. Bedanya, itu dirumah temanku, bukan di tempat les. Jadi memang sedikit agak santai. Akhirnya, aku punya pengalaman mengajar yang cukup menyenangkan dengan mengajar teman seangkatanku. Hehehe. Waktunya melepas mereka untuk SBMPTN, dan waktuku mendekatkan diri kepada jaket kuning, dan fakultasku, FMIPA, didekat Stasiun Pondok Cina. Hehehe. Big thanks buat semua yang mau aku ajar, dan yang sudah mendapat PTN. Kusenang. Dadah:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar