Cinta dapat dirasakan oleh semua orang, dan semua orang tentu berhak merasakannya. Rasa suka terhadap lawan jenis adalah hal yang biasa selama menjalaninya didalam batas normal akhlak seorang muslim. Namun, hal ini juga banyak disalahterjemahkan oleh orang-orang yang akhirnya membelot untuk melebihi rasanya dari hanya sekedar tertarik.
Katanya, kita belum remaja apabila belum mempunyai pacar. Katanya juga, belum pernah jalan berdua dengan lawan jenis juga termasuk hina pada jaman kini. Di jaman yang semakin maju ini saja pacar katanya jauh lebih berguna daripada seorang teman, lagi-lagi manusia tertipu permainan kata-kata yang tak ada buktinya. Lebih percaya daripada Al-Quran yang diturunkan Allah SWT
"Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu ia jadikan daripada jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang sangat banyak sekali"
[ QS An-Nisaa 4:1 ]
Kebanyakan teman juga kini sudah mulai tergantikan keberadaannya oleh seorang lawan jenis yang lebih menarik untuk diajak bersama. Padahal, kebanyakan atau mungkin semua dari kita lebih dulu merasakan indahnya pertemanan daripada membutakannya rasa tertarik terhadap lawan jenis. Sahabat bukanlah sesuatu yang habis manis sepah dibuang, namun mereka justru selalu menjadi tempat pelampiasan seseorang yang mengalami masalah.
Ada cerita dimana dua orang remaja laki-laki yang bersahabat cukup dekat, walau mereka tak menuntut ilmu di sekolah yang sama lagi. Keduanya memang punya latar belakang yang berbeda. Sebut saja si A memang jauh dari kata 'wanita' dan tampak awam akan hal tersebut, sebaliknya si B yang memang diidentikkan dengan 'memainkan' wanita.
Sudah barang tentu si A tidak memiliki seorang pacar dengan kondisi tersebut, dan si B mempunyai seorang lawan jenis yang disebutnya pacar. B adalah orang yang sangat sabar dan baik, namun menjadi daya tarik banyak orang, namun dia tidak memperhatikannya. Pacarnya adalah orang yang sangat posesif dan selalu ingin bersama setiap hari, walau sulit baginya bertemu berdua.
Entah, hal apa yang membuat persahabatan A dan B ini tetap berlangsung walau mereka berbeda tempat sekolah dan latar belakang. Suatu hari mereka bermain berdua dan saat itu pacar si B juga bermain ditempat yang sama, dan dia bertemua dua laki-laki tersebut, dan mengajaknya untuk pergi berdua, tanpa menghiraukan si A. Si B ingin menolak, namun karena tidak ingin menghancurkan hubungan asmaranya, dia menerima tawaran sang pacar dan meninggalkan si A di tempat itu. Tentu kita merasa kita tidak dibutuhkan lagi setelah sahabat kita lebih memilih pergi dengan pacarnya ketimbang dengan kita.
Mungkin, kita bisa merenungkan sejenak cerita diatas dan berfikir bahwa manusia terkadang membutuhkan orang lain untuk mengharap sesuatu, dan apabila sudah mendapatkannya, pribadinya langsung berubah. Berfikir dua kalikah kalian lebih memilih pacar yang kalian tidak bisa jamin masa ketahanannya darpada seorang sahabat yang selalu memasang telinga, mulut, dan bahunya untuk membantu kalian dan datang tanpa maunya. Berfikir dua kalikah kalian lebih memilih bahagia dengan cara mendekati zina dengan lawan jenis kalian, daripada bermain lepas dan bercerita hingga lidah kehausan meminta air dengan sahabat kalian.
Dengan ini, saya berharap seseorang bisa mengapresiasi keberadaan sahabat mereka sepenuhnya tanpa meminta sesuatu. Semoga Allah selalu menuntun kita ke jalan yang lebih baik.
Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar