Lagi-lagi diberitahukan bahwa memang cakupan pengertian aturan memang cukup luas. Terkadang, aturan bagai sisi uang logam yang berlawanan namun saling melekat. Disisi lain dapat menjadi penegas suatu cara untuk menghentikan masalah, namun disisi lain, orang yang diatur lebih tertantang untuk melanggar ketetapan yang sudah dibuat.
Salah satu sebab pelanggar aturan cukup banyak yakni karena aturan tersebut bersifat merugikan mereka. Sebenarnya, hampir tidak ada aturan yang tidak menuntun kearah kebaikan. Mungkin, terkadang memang tidak semua orang mudah adaptasi terhadap aturan tersebut. Atau mungkin, mereka terlanjur melanggarnya dan sudah sulit keluar dari pelanggarannya.
Seperti yang sudah pernah dibahas tentang pacaran sebelumnya, aturan dan pacaran punya hubungan yang erat. Walaupun di ayat-ayat Al-Quran tak ada larangan pacaran, disana berlaku ketetapan bahwa kita tidak boleh mendekati zina. Seperti yang ada di surat Al-Israa ayat 32 dan konsekuensinya terletak pada surat An-Nuur ayat 2 serta buktinya pada surat An-Nuur ayat 26.
Pacaran tentu sudah menjadi tradisi bagi remaja negara kita ini. Namun, jika yang pacaran saja sudah banyak, apalagi mereka yang berzina diluar status pacaran. Terkadang, sulit dengan membawakan ayat Allah sekalipun untuk membuat seseorang berhenti berzina, dan terkadang, mengingatkan hal yang baikpun tak selamanya benar, karena kadang dilakukan tanpa cara yang benar, tanpa kita sadari..
Ambil contoh ketika kalian punya teman yang sudah berpacaran dalam waktu yang lama. Kemudian kamu mencoba mengingatkannya dengan 'to the point' kepadanya. Jelas, mereka sulit untuk mendengarmu dan terkadang akan acuh tak acuh mendengarmu lagi.
Sesuatu yang benar memang, namun, seorang pencopet apabila ingin menafkahi anaknya dengan cara mencopet juga salah kan? Ataupun sebaliknya, membela teman kalian dari ajakan menjauhi zina demi lebih dekat dengan temannya tersebut. Lantas, tidak ada yang lebih baik kan? Lebih baik kita tetap menegakkan aturan dengan pendekatan terhadap orang yang hendak diatur tersebut.
Tentu, setiap aturan mempunyai beban tersendiri untuk dipatuhi pada salah satu poinnya. Buat maling, mungkin aturan yang mereka tidak sukai adalah "jangan mencuri", dan pada pengamen adalah "jangan meminta-minta". Namun, kita hanya cukup mensosialisasikan kepada orang-orang yang siap dibebani aturan dengan sebuah kesepakatan.
Ketika aturan itu sudah masuk pada urusan agama, maka fokuskanlah kepada orang tersebut hanya untuk mematuhinya. Tentu kita harus menjadi orang yang mensosialisasikan aturan dengan baik. Jangan sampai kita terlalu kasar atau terlalu halus untuk menyampaikan aturannya. Kita coba mengingatkan mereka pelan-pelan dari poin awal, hingga poin terspesifik pada setiap pendekatan.
Zina adalah salah satu contoh yang bisa saya ambil lagi. Orang yang pacaran mungkin perlu sosialisasi dan mendekatkan diri kepada Allah dengan cara-cara yang kecil, yakni shalat sunnah, membaca dan menikmati terjemahan qur'an, dzikir pagi dan petang, atau mungkin hal-hal yang mendekatkan kita kepada Allah lainnya. Ketika mereka masih belum terbiasa, kita bisa mengenalnya dengan istilah "plan B'.
Coba, kita mengurangi waktu berzina mereka dengan mendekatinya mengobrol bertiga, ataupun dengan menegurnya apabila ada yang memancing zina. Dan ketika mereka gagal, mereka boleh mengingatkannya dengan hukum yang berlaku. Apabila mereka tidak mau juga, kita tidak perlu mencari musuh, karena memang kita tidak boleh mengurus urusan yang terlalu berdasar pada perspektif.
Semoga dengan ini, perbuatan melanggar aturan sedikit dan aturan dapat dengan baik ditegakkan. Terimakasih.

Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar