Selasa, 23 September 2014

Comparison of 'Pacaran' and 'Ta'aruf'

     Assalamu'alaikum wr wb. Remaja pada jaman sekarang semakin mengalami perkembangan pesat tentang pergaulan, apalagi soal khalwat. Cinta memang rasa yang kimiawi dialami semua manusia, tinggal bagaimana mereka mengapresiasinya.



     Salah satu hal yang memang memicu terjadinya perzinahan di dalam lingkar remaja adalah nafsu yang menggebu untuk saling memiliki. dimulai biasanya dari seorang ikhwan dan ia memancing lawan jenisnya dengan cara mendekatinya. Ketika akhwat itu mulai terpancing, itu seperti benang yang lolos dari lubang jarumnya yang siap mencoba melewati hadangan baru, lembar perzinahan dalam hidupnya.


[ Q.S Al-Israa 17:32 ]

     Pacaran bukan solusi yang dirasa tepat untuk membayar semua nafsu kita. Pacaran juga bukan hasil dari upah kita menunggu lawan jenis yang kita idam-idamkan sebelumnya. Solusi ta'aruf dirasa menjadi salah satu cara untuk menghindari dosa-dosa zina tersebut. 

     Ta'aruf, secara bahasa memiliki arti 'berkenalan' atau 'saling mengenal' yang berasal dari kata ta'arafa.


"Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia disisimu ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah maha mengetahui, maha teliti.

[ QS Al-Hujurat 49:13 ]

     Kembali lagi mengenai apa itu khalwat. Khalwat yang lebih dikenal dengan pacaran tentu lebih dikenal juga di budaya barat dan juga mulai di Asia, sedangkan ta'aruf belum populer di kawasan barat. Pacaran tentu saja berbeda dengan ta'aruf.

     Pacaran berarti dua insan berbeda jenis kelamin saling mencintai satu sama lain dan memungkinkan suatu hubungan yang akan mendekati zina. Status ini akan membuat mereka terlihat sah-sah saja didepan umum. Dengan ini, kecil kemungkinan mereka berubah menjadi dewasa, namun mereka hanya akan menjadi pezinah yang beradegan dewasa. 

     Apa jadinya jika pacaran memang menjadi tradisi di Indonesia? Entah, apa jadinya jika itu memang benar terealisasi, dan kehancuran moral adalah jawaban dari semua kehancuran tadi. Mereka mau saja berenang didalam sungai dan berujung hanyut dan maut menjemput didalamnya. Tentu sayang rasa cinta ini memang benar adanya, dengan itu apresiasinya pun wajib dilakukan dengan cara yang benar.

     Ta'aruf dimulai dengan proses yang hampir sama dengan pacaran, yakni mengagumi lawan jenisnya. Kemudian, salah satu dari mereka memendam rasa mereka dan mereka hanya bertemu dalam hal-hal yang penting saja. Kemudian, mereka tidak melakukan pendekatan menuju zina. Lalu, salah satu dari mereka yang biasanya ikhwan adalah orang yang hanya cukup mencari informasi melalui orang yang dekat dengan akhwat idamannya tersebut.

     Tidak semua orang tahan terhadap ta'aruf dan tahan terhadap hawa nafsunya, sehingga biasanya ta'aruf tidak dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Ta'aruf melarang pelakunya untuk terlibat dalam proses zina. Jadi, untuk lolos tahap ta'aruf selanjutnya,, mereka harus menghindari zina terlebih dahulu. Ta'aruf bukan berarti menghalalkan status sebelum menikah (selain melamar) dengan melakukan zina selama masa-masa tersebut.

     Pacaran memang membuat dua lawan jenis menjadi terlihat dekat, namun mereka hanya memprioritaskan egonya masing-masing, berbeda dengan ta'aruf yang lebih jauh urusannya dengan agama. Orang yang lebih memilih ta'aruf punya gaya berfikir yang lebih luas daripada pacaran.

     Mengapa? Ta'aruf adalah masa-masa seseorang tak hanya mengenali kelebihan lawan jenisnya, namun kekurangannya juga. Jadi, saat melamar, kita memang sudah tahu secara luas tentang lawan jenis tersebut. 


     Berbeda ketika kita pacaran, kebanyakan orang pacaran justru memamerkan kelebihannya kepada lawan jenisnya, dan ketika kekurangan salah satu pasangan terungkap, mereka bisa saja mengakhiri hubungan dan pasti ada salah satu atau dua-duanya akan tersakiti. Berbeda dengan ta'aruf, ketika kita telah mengetahui kekurangan lawan jenis kita itu, kita bisa saja menggantikan perhatian kepada lawan jenis yang lain yang menurut kita lebih baik.


Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang bauj dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

[ QS An-Nuur 24:26 ]

     Cinta ibarat bensin dimana mesin kendaraan adalah masa depan kita, dan bilangan oktan adalah tingkat ketahanan kita menyikapi hawa nafsu itu. Semakin rendah bilangan oktan bensin, bensin akan mengenai piston sebelum akhirnya merusak mesin kendaraan itu sendiri. Sedangkan bensin dengan bilangan oktan yang sesuai dengan mesin kendaraan akan mengenai piston tepat pada waktunya dan menjaga kestabilan mesin kendaraan.

     Semoga dengan artikel yang singkat ini, para remaja yang melakukan zina dapat mengurangi atau bahkan menghentikan perbuatan zinanya sebelum terlambat. Sungguh, Allah maha pengampun, lagi maha penyayang.

     Wassalamu'alaikum wr wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar