Semakin tinggi suatu buah pada pohon, maka semakin kencang angin yang menerpa. Begitu juga dengan hidup kita, semakin kita beranjak tua dan dewasa, akan semakin berat ujian ujian yang akan menimpa kita di kemudian hari. Ujian itu tak selamanya hadir dari orang lain, tapi bisa jadi hadir dari diri kita sendiri.
Mengerti orang lain juga merupakan suatu ujian, dimana kadang mengucapkan "aku akan mengerti kamu" itu begitu mudah, lalu ujung-ujungnya sulit. Berbicara memang terkadang mudah, tapi membuktikannya jauh lebih sulit dari mengucapkannya. Tidak semua orang sejalan dengan kita, tidak semua orang sepemikiran dengan kita, dan tidak semua orang seperti atau senasib dengan kita.
Seperti dunia perkuliahan ini, dunia yang saya alami sekarang. Mahasiswa terbagi menjadi dua, yaitu mahasiswa yang pulang-pergi rumah-kampus dan tinggal di kostan. Atau bisa juga terbagi menjadi mahasiswa yang aktif organisasi sana sini, serta mahasiswa yang malas untuk berorganisasi. Mau tidak mau, suka tidak suka, dua hal yang berbanding terbalik itu sulit disatukan, dan memang mungkin tidak bisa bersatu.
Paradigma yang ada di tempat saya menuntut ilmu adalah, bahwa anak yang pulang-pergi rumah-kampus dianggap memiliki kendala atau tidak diprioritaskan ikut dalam sesuatu acara yang dinilai besar dalam lingkungan tersebut. Ada juga paradigma bahwa anak yang tidak ikut organisasi adalah orang-orang malas, yang terlihat hanya sekedar belajar-pulang belajar-pulang saja. Mungkin benar, mungkin tidak. Tapi tidak ada yang tahu memang kebenarannya seperti apa.
Sangat bisa dimengerti, mengapa beberapa orang senang membuat hipotesa, dugaan, atau judgement yang ternyata mengganggu orang lain. Contohnya: "anak pp itu gak bisa pulang malem", "pasti dia gabut doang dirumah males ngapa-ngapain makannya gapernah rapat", atau berbagai judgement lainnya yang sudah sering terdengar. Mungkin, ini yang membuat solidaritas dalam angkatan akhirnya hilang.
Sebenarnya, ber-geng dalam suatu lingkungan itu sudah biasa adanya, namun, akan menjadi sesuatu yang baik jika antar geng itu tidak saling sinis, yang berarti masih bisa berhubungan dengan baik jika bertemu, seperti tetap menyapa walau sekedar "woy" saja. Tapi, akan menjadi lebih baik lagi jika perbedaan itu tetap menyatu, tetap berkumpul bersama tidak membentuk kelompok dalam suatu lingkungan atau pergaulan, atau istilahnya tidak ada forum dalam forum hehe.
Kembali lagi tentang mengerti orang lain, sebenarnya mudah untuk mengerti orang lain, sebenarnya. Cukup dengan tidak membuat judgement apapun tentang orang lain, apalagi 'menyemprot' orang lain dengan kata-kata yang tidak seharusnya. Karena setiap orang punya jalannya sendiri dalam menjalani hidupnya.
Dari
Mahasiswa yang tidak tahu termasuk dalam golongan yang mana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar