Kamis, 09 Maret 2017

Angkot Dari Berbagai Mata

     Sudah familiar dengan satu kendaraan diatas? Sebuah kendaraan umum yang menganut sistem angkut dan antar penumpangnya dimana saja dengan cukup mengadah saat mau diangkut dan mengatakan "kiri" saat sampai tujuan. Kendaraan umum yang juga begitu familiar dengan istilah "ngetem", "mangkal", dan sebagainya.

Hasil gambar untuk angkot bogor
     Berfikirlah jadi seorang pejalan kaki biasa yang tidak memiliki kendaraan bermotor. Kita kadang sudah berjalan pada tempatnya, tapi terkadang mereka menyerobot dan kadang hingga menyenggol kita dari belakang. Atau begini, ketika hendak menyebrang, mobil dan kendaraan lainnya sudah berhenti untuk memberi jalan, tapi mereka malah lanjut jalan dan akhirnya membahayakan keselamatan.

     Lalu ketika kita sebagai pejalan kaki tanpa kendaraan bermotor, lalu kita menggunakan aplikasi terbaru semacam "Go-Jek", "Grab", atau "UBER", mereka selalu mempersulit langkah kita dalam beraktivitas. Saya adalah mahasiswa yang pulang-pergi Stasiun Pondok Cina - Stasiun Cilebut, dan saya menggunakan 1 dari 3 aplikasi diatas untuk menjadi akses pulang saya ke rumah yang berjarak 5,4 km dari stasiun yang terakhir saya sebut namanya. Terkadang, saya perlu jalan sejauh 700 meter dahulu sebelum bisa menaiki kendaraan yang saya pesan karena egoisnya supir angkot tersebut.

     Berbicara relasi antara driver online dengan supir angkot tersebut, rasanya saya lebih memihak kepada driver online. Berdasar pengalaman, saya butuh 2 kali naik angkot dari stasiun menuju rumah saya, dan itu membutuhkan dana sebesar Rp7.000,00 yang setara dengan 1 kali naik ojek online dengan jarak dan tujuan yang sama di rush-hour (dengan biaya yang lebih murah selain di jam rush hour).

     Selain dari cerita saya diatas, hal yang perlu disoroti adalah alasan supir angkot maupun supir ojek pangkalan yang selalu mempersulit orang lain mencari nafkah (dengan strategi yang jauh lebih inovatif) dengan harga yang bersahabat bagi konsumen. Untuk apa masih bekerja dengan profesi yang sama, tapi penghasilannya segitu-segitu saja. Mengapa tidak berhenti, untuk mencoba sebuah inovasi yang baru? Atau, menurunkan biaya agar harganya hanya sedikit berbeda dengan pesaingnya. Ah, tapi ini Indonesia, negara yang hanya mengatasnamakan ego diatas strategi.

     Sebagai pengendara motor, saat saya masih ada di bangku sekolah menengah, saya sering sekali berada di keadaan dimana saya sejalur bersama angkot, karena jalur kanan adalah jalur mobil pribadi. Saya sering sekali ingin menyalip angkot yang bergerak lamban, namun ketika saya meningkatkan kecepatan, angkot itu juga sama. Lalu ketika saya mau menyalip dari kiri, mereka tiba tiba menurunkan penumpang tanpa lampu sein hingga dulu saya pernah terjatuh dan terlibat keributan. Demikian cerita saya sebagai pengendara motor terhadap angkot.

     Saya juga mengendarai mobil. Walau saya lebih sering mengemudi ke luar kota, tapi saya merasakan seberapa kesalnya saya menyetir didalam kota lalu terhambat oleh berhenti-jalannya supir angkot. Sama dengan cerita saya mengendarai motor, namun ini lebih berbahaya karena kendaraan yang saya bawa jauh lebih besar dengan isi muatan yang jauh lebih banyak.

     Yang pasti, banyak orang yang sepaham dengan saya tentunya. Jika supir angkot memiliki attitude yang buruk di jalan, tentunya semakin banyak yang semakin malas menaikinya. Ditambah dengan banyaknya kasus kekerasan yang mereka lakukan terhadap driver online yang jelas-jelas mengutamakan keselamatan konsumen dengan biaya yang terjangkau, tentunya angkot akan kalah peminat dibandingkan pesaingnya. Dan alangkah baiknya walikota di setiap kota menertibkan angkot yang supirnya tidak punya SIM A, STNK dan BPKB serta suratnya tidak jelas, angkot tua, serta sembrono dan mengurangi trayek angkot yang dianggap terlalu dekat antar tujuan akhirnya. Semoga saran saya dapat menjadi pertimbangan.

Lukman Satrio Adi, Departemen Kimia, Universitas Indonesia 2016

2 komentar: