
Hakikatnya menurut islam, cinta adalah bagaikan pohon yang ada di dalam hati. Akarnya adalah ketundukan kepada sesuatu yang dicintai, dahannya adalah mengetahui adanya rasa itu, rantingnya adalah ketakutan akan hal itu, daun-daunnya adalah malu kepada hal itu, dan buahnya adalah ketaatan kepada-Nya dan air yang menghidupinya adalah menjadi pohon yang sempurna. Begitupun cinta, jika kita tidak mempunyai salah satunya, cinta kita belum sempurna.
Orang yang memiliki cinta bisa jadi terdiri dari 3 macam; yaitu: Orang yang mempunyai keinginan tertentu dari orang itu, orang yang mempunyai keinginan memiliki orang itu, dan orang yang mempunyai keinginan mewujudkan apa yang orang itu inginkan. Jenis terakhir adalah tingkatan yang tersulit, mengingat ia harus terkadang mengorbankan dirinya untuk mengabulkan keinginan orang itu secara tulus.
Lantas, mengapa kita harus mencintai seseorang hanya karena ingin memenuhi obsesi diri sendiri tanpa memikirkan orang itu, lalu, apakah cinta semudah itu? Tentu tidak. Kadang, saya juga berfikir hanya nafsu atau memanfaatkan semata. Ini tugas kita untuk memilah rasa yang kita alami agar tidak mengalami hal-hal tadi. Lebih baik berhenti, daripada karma menghampiri.
Tapi, pernah terfikirkah kalau kalian selalu dijauhkan oleh orang yang kalian cintai? Atau, ketika kalian mencoba menumbuhkan rasa cinta itu, kalian justru dijauhkan oleh orang yang kalian idamkan? Ya, mungkin semua orang pernah merasakannya. Jadi, untuk apa merasa bahwa hanya kalian sendiri yang merasakannya?
Adakah kalian pernah mengintrospeksi apa yang terjadi pada diri kalian? Apakah kalian memiliki sifat yang tidak disenangi orang yang kalian cinta, atau kalau tidak ada, apakah kalian sudah mencintainya dalam waktu yang tepat? Karena, kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan keadaan dikala kita gagal. Andaikan difikir secara logika, kegagalan terjadi karena berbagai faktor, dan keberuntungan tak datang berkali-kali. Andai kita sering gagal, jangan salahkan keberuntungan.
Kegagalan dalam cinta bisa jadi karena kepribadian kalian yang menyebalkan itu, karena ambisi yang terlalu meledak-ledak, atau karena faktor karma yang mungkin pernah diucap dalam doa orang yang pernah kalian sakiti. Untuk yang satu ini, usahakan selesaikan masalah dalam percintaan di masa lalu (dalam hal ini, mantan) selama bisa diselesaikan, Karena itu lebih baik daripada karma yang dapat merugikan di kemudian hari.
Kembali lagi kepada hubungan antara jarak dan cinta. Dan rumusan masalah semua manusia hampir pasti sama. "Bagaimana cara membuat jarak antara kita dengan si dia tidak jauh dengan tumbuhnya cinta?" atau "Bagaimana cara cinta menjadi jembatan menuju kebahagiaan?". Sederhana saja. Namun, menerapkan jawaban dari rumusan itu adalah hal yang lebih sulit dari sekedar matematika.
Dalam hal ini, biasanya kasus dan permasalahan ini terjadi kepada dua sahabat berbeda gender yang sudah lama bersahabat, dan salah satunya menanamkan rasa lebih dari hubungan biasanya, dan setelah terbongkar, biasanya mereka menjadi saling menjauhi satu sama lain. Dan ini seperti sudah menjadi hal biasa, terutama dalam dunia remaja. Dan entah mengapa, persahabatan berbeda gender seringkali dianggap sebagai tahapan pendekatan, walau kadang orang yang terlibat baru menyadarinya dalam waktu yang lama.
Masalah diatas mungkin takkan pernah menemukan obat yang pas untuk diselesaikan, karena mungkin tiap masalah memiliki klimaks dalam hal yang berbeda. Ada yang sama-sama suka, namun tidak peka. Ada juga yang peka, namun berusaha menghindar. Yang terburuk, ada juga yang menjauh karena takut mengalami "sahabat jadi cinta". Dan akhirnya, cinta yang mulia ini dianggap sebagai kambing hitam bertambahnya jarak antar insan dunia.
Cinta mungkin terlihat begitu, dan memang akan selalu begitu bagi orang yang tidak bersyukur. Padahal, cinta tak hanya sekedar mengikat rasa, terkadang banyak hal untuk bisa menunjukkannya. Mulai dari sering menolongnya, membuatnya nyaman, dan melepaskannya dari tekanan yang dirinya alami. Karena cinta yang tidak disampaikan, wujudnya takkan pernah berubah, itu akan tetap cinta. Karena rasa itu lebih baik diwujudkan lewat tindakan dibandingkan hanya sekedar mengucap tanpa melakukan apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar