Tahun baru, dan akan ada banyak hal yang baru di tahun kabisat keempat pada milenium baru ini. Sebelum memulai sesuatu yang baru, tak jarang kita terbesit akan kenangan-kenangan lama di tahun kemarin. Begitu banyak dan sulit untuk melupakan segala apa yang sudah diri ini lakukan di tahun kemarin. Lengkap sudah semua rasa yang ada.
Ini memang tahun pertamaku tanpa seseorang yang selalu mengisi telepon genggamku. Hari pertama di tahun lalu memang kuisi dengan meminum kopi bersama teman sekelasku di sebuah warung kopi hingga pagi buta. Aku memang mengharap kehangatan kopi itu dapat membuat tahun lalu menjadi lebih hangat dan bersahabat. Nyatanya, tahun kemarin terlalu panas untuk dihadapi.
Sepuluh hari setelahnya, pertama kali aku pergi ke suatu tempat wisata yang dapat membuatku lebih tenang dan melepas penat. Mungkin memang hanya berfoto, namun pemandangan membuatku lupa betapa kusutnya benang kehidupan. Diiringi juga oleh teman-teman yang selalu membawa gelak tawa.
Pada tahun lalu juga aku mulai belajar artinya berpindah hati, memindahkan perasaan kepada orang baru yang tidak pernah kita tahu kapan dia akan datang. Mungkin memang aku butuh berpindah hati setelah pengalaman buruk di percobaan pertama. Dan orang itu terlihat meyakinkan dan berbeda, sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan.
Masa-masa di tahun kemarin memang setengahnya kuhabiskan memikirkan perasaan, ya mungkin setelah pelajaran. Kadang aku mengerjakan tugas rumah sembari memikirkannya, atau mungkin saat terlamun di kelas. Bahkan dia dahulu yang memperkenalkan dirinya kepadaku. Maka ini membuktikan bahwa tak semua cinta datang di pandangan pertama. Tahun lalu, aku merasakan cinta tanpa harus menyadari aspek fisik.
Jatuh cinta memang membuat otak kita seolah terisolir dengan selalu memikirkan orang tersebut. Mungkin, belum tentu kita difikirkan juga olehnya, namun, entah mengapa hal itu selalu menjadi sesuatu yang indah. Begitu absurd dan menyenangkan walaupun sebetulnya banyak efek buruknya.
Si dia memang selalu memberi efek semangat saat kita mulai memasang dasi pada kerah kita sebelum menghormati pusaka merah putih saat terik, atau saat mencatat materi pada papan tulis. Namun tak jarang juga, murka pengajar melayang pada membran timpani saat kita tak memerhatikan mereka karena melamunkannya.
Banyak hal yang aku lakukan dengannya. Bagiku, mungkin sudah biasa saat dirinya menduduki jok motorku yang sederhana itu. Namun, kebersamaan dengannya bukanlah sesuatu yang sederhana yang mungkin belum tentu bisa kita lakukan lagi. Disini hayati mulai tersadar bahwa ada secercah harapan yang dia beri untuk diri ini.
Rapor kenaikan menuju tingkat terakhir juga diserahkan tahun lalu, dimana itu menunjukkan bahwa usahaku untuk masuk perguruan tinggi lewat rapor hanya tinggal satu semester lagi. Ah, untung nilaiku cukup memuaskan dan sesuai pada kemampuanku. Abaikan itu, aku mungkin hanya memikirkan apa yang harus kulakukan saat berlibur, mengingat liburan kali ini diisi dengan bulan suci Ramadhan.
Tapi liburan ini terasa begitu cepat. Kenyamananku kepadanya juga terus bertambah, Dari yang membalas conversation hanya sepatah frasa, kini menjadi klausa, kadang kalimat. Pertama kalinya kami mendiskusikan soal cinta, entah mengapa tiba-tiba dia mengungkitnya dihadapku. Aku tahu, rasanya tidak perlu menganggapnya mencintaiku, karena secara derajat, kami bagai David dan Goliath. Begitu jauh.
Sejak itu, aku mulai memberinya banyak pemberian, begitupun bantuan. Rasanya tak membebani, walau sebenarnya dompet ini mulai tercekik karena cekikan jariku yang membuka tutup dia untuk mengambili lembaran lembaran pada tubuhnya. Namun, aku tak peduli rasa dompet itu. Yang terpenting, dia senang menerima pemberianku walau kini dia sudah tak peduli aku yang memberinya.
Kami terus menjalani semuanya bersama-sama hingga pada akhirnya kami terpisah karena suatu hal yang sangat menyedihkan dan membuatku begitu terpukul. Hingga berminggu-minggu kami tidak berkonversasi lewat sosial media karena ketakutanku mengetuk keyboard pada layar 5 inci ponselku.
Namun, seperti sebuah keajaiban, tiba-tiba dia kembali, ya, kembali seperti dulu lagi. Bahkan kami banyak melakukan hal-hal yang lebih gila. Dia mengaku pertama kali kencan dengan laki-laki, dan aku mungkin, aku sudah sering melakukannya. Aku adalah orang yang memiliki hubungan dengan wanita lain begitu lama sebelumnya. Jadi, aku sedikit tahu bagaimana mentranskripsi kode-kode keinginannya.
Tapi, semuanya berubah saat perjalanan kami kembali menuju rumah kami, saat dia truely changed dan sejak itu kami merenggang. Dan setelah dua hari dari kejadian itu, mendengar selentingan kabar yang beredar, orang ketiga telah menghinggapi kami. Dan akhirnya, nasibku tak lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan lagi, orang ketiga adalah katalis reaksi untuk memfiksasikan perasaan ini. Walau sebenarnya masih banyak lagi yang kualami, lebih dari artikel ini
Dan rasanya sudah cukup untuk menggambarkan abstraksi kenangan pada tahun lalu yang kini coba kurangkai menjadi lebih baik tahun ini. Tahun dimana aku harus mendapatkan kampus dan fakultas terbaik, tahun dimana aku akan hijrah menuju sesuatu yang jauh lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar