
Mengungkapkan sesuatu tak semudah kenyataannya. Piring pecah yang kembali disambungkan tak akan sebagus saat sebelum pecah. Begitupun cinta, nyatanya kembali setelah berpisah menghasilkan suasana berbeda saat bertemu kembali. Itu hanya awal dari surat ini.
Ini mungkin sebuah kenyataan. Saat dua insan yang salah satunya mencintai, dan satu yang lainnya memberi harapan. Sebelumnya mereka tidak pernah kenal, hanya tahu saja. Ada saja hal pemertemu dua insan tersebut. Entah mengapa, keadaan datang dengan pasnya saat itu.
Hari itu, aku merasa hidup kembali. Pengalaman suramku di masa lalu seolah hilang saat bertemu dengannya. Aku seperti siap hidup dua kali, bertemu dengan orang yang lebih meyakinkan dari sebelumnya. Memberiku lebih banyak pengalaman, lebih banyak dari yang sebelumnya. Namun nyatanya hasilnya sama, seperti mutasi diam.
Mungkin cukup lama kita menikmati kebersamaan itu, hingga akhirnya ada hal yang membuat kita wajib selalu terhubung. Meskipun banyak orang disana, menurutku, hanya ada kamu. Kamu memang membuatku nyaman, membuaikanku dengan harapan-harapan itu. Bodohnya, aku terbuai saja. Seperti kucing yang mencium bau ikan yang dibakar di kandang anjing.
Selepas itu, aku mau selalu dekat dengan kamu, dan kamu seperti meladeninya dengan baik. Padahal sudah jelas kan, kamu tidak menyukaiku. Aku mengapresiasimu yang tidak pernah menyukaiku, namun tahan meladeniku. Apakah meladeni orang yang kamu tidak suka bukan sesuatu yang memberatkan? Menurutku, itu memberatkan.
Usaha kamu meladeniku membuat aku semakin yakin terhadapmu, Hebatnya, kamu semakin membuatku tergila-gila. Kadang, aku merasa sangat nyaman, tapi, aku juga tau, mungkin kamu melontarkannya kepada semua pujangga.
Aku gila, hampir aku putuskan tinggalkanmu untuk membuatmu lebih nyaman. Tapi kamu sendiri yang sering mendatangiku, muncul dalam pesan telepon genggamku. Aku sudah tidak mau menyentuh teleponku karena depresi terhadap teman-temanku yang mengucilkanku. Kamu datang, 30 menit kemudian menghilang. Begitu terus.
Sampai akhirnya, kamu dekat dengan orang lain. Aku tidak tahu apa perasaanku saat itu. Aku cuma ingin ikhlas, ingin kamu tenang. Tapi, tetap saja aku masih bingung. Apa kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan dariku? Atau, apa yang kamu inginkan dariku? Apa yang kamu dapat darinya tapi tidak pada diriku?
Tapi ya sudahlah, hidupku hanya begitu saja alurnya. Disakiti, lalu disakiti dengan tingkatan yang meningkat. Bukannya membuatku kuat, tapi membuatku semakin tak berdaya. Bukannya menghapus luka, tapi menyempurnakan luka. Namun, yang lebih kuinginkan adalah membuat luka ini terasa nikmat, tidak ingin menutupnya denganmu, apalagi dengan penutup lain.
Wassalamualaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar