
Sebetulnya, cara adalah sesuatu yang dipandang tidak sepenting hasil, namun, tanpa cara, hasil tak ada apa-apanya. Itulah mengapa ada orang yang bisa menerima nasihat, dan ada yang kurang bisa menerima dengan baik. Dalam islam, menyebarkan nasihat itu bisa kita bilang sebagai dakwah.
Andai kita menjadi penasehat, kita harus berhati-hati dengan ucapan kita, tentu saja. Lalu, lihat-lihat subjek/sasaran yang hendak kita hadapi, karena tidak semua orang bisa didakwahi dengan cara yang sama. Kita akan berhasil apabila ada perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik setelah mendengarkan kita.
Jangan lupa tujuan dakwah kita sebenarnya, yakni mendapat ridha Allah SWT. Selanjutnya, jangan mempermalukan orang yang menjadi sasaran kita, terutama dengan nada yang kasar. Juga sampaikanlah secara rahasia, agar tidak terekspos segala aibnya didepan orang banyak.
Selanjutnya, jangan juga memaksakan kehendak. Kita bukan orang yang berhak memaksanya berubah seperti kita, namun, tugas kita sebagai penasehat hanyalah memberikan nasehat yang setidaknya bisa menjadi panutan bagi yang kita nasehati. Jangan lupa juga cari waktu yang tepat, karena ketika otak orang yang kita nasehati tidak fokus, peluang nasehat dicerna dengan baik pun kecil.
Itulah memang uniknya dunia kita, kadang yang diawali dengan niat yang baik bisa menjadi sebuah kejahatan karena dilakukan secara tidak terorganisir dan sistematis, sedangkan kejahatan bisa berubah menjadi kebaikan karena orang yang dianggap "jahat" kadang sebenarnya mau memberantas kebaikan yang tidak terorganisir dengan cara yang lebih terorganisir. Sesungguhnya, lakukanlah pendekatan-pendekatan yang dapat membuat sasaran kita luluh akan dakwah atau nasehat kita.
Saya pernah menanyakan di akun sosial media LINE bagaimana cara melakukan dakwah tanpa harus menyakiti hati orang yang dituju. Dan mungkin ini berikut beberapa hasilnya.
-Aulia Zahratun Nisa, XII MIPA 1 SMA Negeri 2 Bogor-
-Muhammad Idham Gaffar Shidqi, XI MIPA 5, SMA Negeri 2 Bogor-
-Arfathia Maulani Ma'mur, XI MIPA 6, SMA Negeri 2 Bogor-
-Ardino Amien, XI MIPA 6, SMA Negeri 2 Bogor-
-Rizqullah Taufanriansyah, XII MIPA 6, SMA Negeri 2 Bogor-
-Daniel Dwicahya Pratama, XII MIPA 2, SMA Negeri 2 Bogor-
-Izza Adhima Tama, XII MIPA 1, SMA Negeri 2 Bogor-
-Isa Akbarulhuda, XI IPS 3, SMA Negeri 2 Bogor-
-Muhammad Ramdhan Hamidi, XI MIPA 1, SMA Negeri 2 Bogor-
-Farah Nur Afifah Israputri, XII MIPA 6, SMA Negeri 2 Bogor-
-Zicka Rizky Perdana Saputra, XII MIPA 4, SMA Negeri 2 Bogor-
-Ken Fajriansyah Firdaus, X MIPA 1, SMA Negeri 2 Bogor-
-Shafira Rizky Ananda, XII MIPA 5, SMA Negeri 2 Bogor-
Mungkin setelah melihat beberapa jawaban diatas, dapat ditarik sedikit kesimpulan bahwa sebetulnya kebanyakan orang lebih suka didakwahi atau dinasehati dengan cara-cara yang halus dengan penuh pendekatan, bukan yang bicara itu-itu saja, tidak tepat ilmunya, menghasut, dan menyindir-nyindir seperti orang bodoh. Dakwah tidak keji seperti itu.
Apalagi di zaman yang sekuler seperti ini, semakin banyak orang yang mulai berani melawan aturan apapun yang sangat mengganggu, termasuk agama. Walaupun aturan itu mengarah kepada kebaikan, namun jika mereka tidak menerimanya dengan baik, maka mereka juga tidak mau menerima dan mengindahkannya dengan baik. Inilah tugas semua muslim/muslimah untuk selalu berdakwah dan saling mendakwahi. Jalan terjal ini sungguh dapat kita tempuh dan siasati dengan tepat.

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawatlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya"
[QS. Ali Imran 3:159]
Wassalamu'alaikum wr wb.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar