Manusia punya sifat yang berbeda-beda, dan punya berbagai hal yang berbeda-beda tentunya. Manusia diciptakan dengan berbagai perbedaan dan keunikan diantara mereka. Perbedaan bukan berarti dua hal menonjol yang mengandung keterbalikan makna dan berisi konteks positif dan negatif. Perbedaan juga bukan alasan seseorang menjauhi sesamanya. Ini hanya seputar perbedaan.
Perbedaan yang kita kenal paling dasar adalah persepsi setiap manusia yang berbeda. Sangat langka menemukan manusia memiliki persepsi dan opini sama. Dan sangat langka pula manusia yang mau menerima perbedaan antara kedua sisi tadi. Mayoritas hanyalah para penentang sebuah opini yang dianggap melenceng, dan membangkang segala persepsi yang membelok.
Dari persepsi, keluar sebuah opini. Karena persepsi saja sudah berbeda, opini akan berbeda. Tanaman yang ditaruh diluar rumah dan didalam rumah akan berbeda kualitasnya, bukan? Dan perbedaannya sangat menonjol. Itulah yang harus dihindari manusia. Janganlah tambah memperlihatkan perbedaan yang menonjol itu, cobalah tutupi dengan korelasi yang terlihat lebih baik.
Dari sebuah opini, muncul sebuah kalimat-kalimat argumentasi. Kalimat argumentasi bisa menjadi awal pergerakan anti-toleransi dalam sebuah relasi. Tidak semua manusia bisa membuang sampah tanpa mencium baunya. Begitupun manusia. Tidak bisa menerima hinaan lewat argumentasi yang telah masuk ke dalam hati begitu saja.
Meskipun manusia punya mulut yang menyayat hati, namun perasaan mereka apabila mendengar kalimat yang ofensif akan mati. Jika kalian tak ingin mendengar ada hati yang tersakiti, berhentilah terlalu akut dengan persepsi-persepsi anda. Semua manusia juga punya hak berpendapat dan mempertahankan opininya.
Dari sini, hati manusia mana yang tersentuh saat mendengar perdebatan seseorang hanya karena berbeda argumen? Hanya minoritas yang merasa bahwa toleransi itu sangat diperlukan. Sisanya? Hanya otak udang yang hanya mengerti emosi, birahi, dan segalanya yang mengarah pada argumentasi yang dapat menyinggung hati.
Anti-toleransi bisa menjadi sebuah landasan mengapa banyak negara di berbagai dunia bergelut hanya karena suatu aspek, mengapa ada seorang anak terkucilkan dari pergaulan, dan mengapa pekerjaan terlihat berbeda. Mengapa tidak pernah berfikir positif dan mencari persamaan saat membandingkan?
Kenapa harus berdefisit kalau masih ada sesuatu yang menyatukan? Mengapa masih ada rasa ingin berbeda walau manusia itu ditujukan untuk bersatu? Mengapa tidak ingin disamakan saat tempat terakhir kita sama-sama berada di dalam galian tanah? Mengapa mau terlihat sempurna dan tidak mau salah saat manusia sudah pasti berbuat salah?
Untuk apa tidak toleran padahal kita sama-sama terbentuk dari sperma, ovum, dan segumpalan darah? Lebih indah pelangi dengan 7 warna dibandingkan dengan satu warna bukan? Sama, bumi ini juga butuh perbedaan. Tinggal bagaimana kita bertoleransi saja.

Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar