
Lalu bagaimana dengan kesibukan kita sehari-hari dan usia kita? Mereka juga seperti tekanan dan luas penampang yang juga berbanding lurus. Jika saat TK kita belum mengenal tugas, waktu SD kita sudah mulai agak mengenal apa itu PR. Jika SD belum mengenal makalah, maka SMP juga akan dikenalkan oleh makalah. Jika SMP belum diberitahu metode ilmiah, maka SMA adalah masanya untuk mengetahui itu. Jika SMA belum mengetahui laprak tulis, maka di kuliahlah kita akan tau.
Hidupku, hidupmu, hidup kami memang sibuk. Tapi hidup kita semua memang lebih dari sekedar kesibukan. Banyak orang-orang disamping kita yang memperhatikan, melihat, dan mengamati kesibukan kita. Tanggapan yang dilayangkanpun beragam; mulai dari dukungan, pembelaan, pengertian, bodo amat, atau judgement yang akan didapat oleh kita.
Memang, hidup ini harus diisi dengan kesibukan. Terkadang, kita memang terlena dengan kehidupan yang menikmatkan, tapi disisi lain juga kita harus mengingat namanya kewajiban. Kewajiban inilah yang membuat akhirnya kesibukan itu benar adanya.
Lalu, bagaimana cara kita menanggapi tanggapan-tanggapan negatif dari orang lain yang tidak terima dengan kesibukan kita? Persetan, ingat saja orang yang mendukung kesibukan kita itu. Orangtua sudah pasti mendukung kesibukan kita, orangtualah yang membiayai kesibukan kita mungkin, dan orangtua juga yang ingin kita sukses dengan kesibukan kita.
Kesibukan ini juga yang kadang membuat kita kehilangan banyak hal, kehilangan banyak orang. Kadang, orang orang ada yang tidak mengerti dan toleran dengan kesibukan kita. Sebut saja sahabat. Mungkin bersahabat sejak lama, lalu terpisahkan oleh tempat kuliah yang jauh, dan akhirnya jarang komunikasi dan bertemu, akhirnya tidak bisa bersahabat seperti dulu. Pacaran juga sama, sekalipun sekampus, seprovinsi, tapi ya kita gabisa apa-apa kalau mereka tidak mengerti kesibukan kita.
Soal pacar, keputusan kita ada pada pilihan biner, yaitu meninggalkannya atau bertahan. Pliihan yang saya yakin sangat sulit, tapi pilihan yang memang harus diambil agar kita tidak tergantung pada sesuatu atau seseorang. Dan kondisi ini memungkinkan hati dan logika menjadi kontra walau berada dalam tubuh manusia yang sama. Lalu, harus apa? Kesibukan ini tidak bisa kami hindari, tapi kami juga mau memerhatikan pacar kami. Namun, jika memilih salah satu, satu yang lain akan terlepas. Padahal keduanya penting. Peran si dia lah yang harusnya mengerti dengan semua ini

Sibuk itu maknanya luas. Orang yang sibuk, prosedural, dan terstruktur biasanya memiliki banyak kesibukan. Lalu, kenapa kalian harus marah jika mereka sibuk, bukannya bangga dengan mereka yang bisa menyibukkan diri demi masa depan yang lebih baik?
Memang wajar jika mudah mengumbar kata cinta dikala masih muda. Tapi, usia muda tidak menjadi halangan untuk bertingkah dewasa. Pacaran lebih dari sekedar mengumbar kata gombal, lebih dari mengatakan cinta atau sayang. Lebih dari itu. Berfikirlah dua kali untuk menjauhi orang yang sibuk demi mempersiapkan masa depannya bersama kalian. Hindari frasa klausa kalimat paragraf cerpen untuk menghambat usahanya bahagia dengan "kalau sayang kesini dong ketemu" atau kata kata egois lainnya.
Jangan selalu minta diperhatikan, jangan selalu minta ketemu. Bosen coy, lu ge ntar ngerti bakal bosen ketemu orang yang sama, diperhatiin dengan cara yang sama, dan melalui hal yang sama terus terusan. Mending biarin dia bebas, terus ketemu lagi pas udah sama sama mapan. Baru deh berjuang supaya jadi makin mapan. Terbang sama sama lebih baik daripada diterbangin. Biar asoy anjay.
Marah sama pacar cuma karena pacarnya sibuk cuma hal bodoh. Bisa jadi kesibukan ini adalah pintu sukses buat dia dan kamu juga ngerasain juga nantinya. Atau engga, kamu sibukin diri juga deh, biar sama sama sibuk, gaada yang iri kalau dia doang yang bisa sibuk, sama sama ga chattan, tapi ga musuhan juga. Kan bisa?
Jarang bisa ketemu tuh bukan berarti egois, Mungkin, jarang ketemu bisa jadi karena hal-hal yang dia persiapkan buat masa depan. Kalau kamu kepikiran seperti itu, berarti ya kamu bakal mendem rasa mau ketemu terus terusan dan akhirnya berfikir hubungan kamu gabisa dilanjutin cuma gara-gara berfikir kalau gaada waktu, gaada hubungan? Big no. Pahamin dong.
Sibuk bisa jadi simbol kalo orang itu produktif. Jangan jadi inhibitor keproduktifannya dong, bantu kalo bisa, ya minimal support lah pake doa atau chat "semangat ya" atau apa kek. Emangnya lu bisa pacaran sama orang yang ga produktif, stuck gitu gitu aja terus hidup lu berdua cuma make cinta. No. Idup modal cinta doang pas udah berkeluarga palingan mati besoknya.
Pokonya mah ada kan konsep memahami dan mengerti, pake aja tuh. Kaya lu make konsep torsi buat ngerjain soal kesetimbangan benda tegar. Salah konsep, gabisa diaplikasiin. Mana bisa konsep fluida lu pake buat ngerjain soal asam basa. Ya kalo lu gabisa ngertiin doi lu, ya paling gitu. Akhirnya hukum archimedes ketuker sama arrhenius. Kelar idup. Dah gitu aja. Malu sama sel, sel aja makin banyak, tapi kedewasaan engga. Kan ditubuh yang sama, harusnya ya seiring.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar