Pertanyaan yang sering terbesit di dalam benak, pertanyaan yang tidak pernah mudah untuk dibuat menjadi pernyataan tentunya. Pertanyaan yang acap kali membuat diri kita ingin tahu yang mana yang harus diprioritaskan. Lalu, yang mana yang harus didahulukan?

Mempunyai agama, merupakan contoh kecil bahwa kita memiliki perasaan. Tanpa perasaan, rasanya mungkin kita tak percaya adanya Allah SWT. Andaikata kita mendapat suatu musibah, lalu kita tidak menggunakan perasaan saat menerima nasib, kita mungkin akan merasa layaknya atheis, tak berfikir dengan perasaan bahwa Allah punya rencana lain dibalik suatu musibah.
Mulai detik ini, kita harus mulai mengetahui yang mana yang harus kita gunakan untuk menyelesaikan masalah. Otakkah? Logikakah? Atau keduanya? Belajarlah dari suatu pengalaman agar tidak salah memilih apa yang akan kita gunakan.
Bagaimana dengan masalah percintaan? Banyak orang mengidentitaskan bahwa laki-laki memiliki logika, dan perempuan punya perasaan. Patahkan hal itu, karena ketika suatu pasangan kekasih mengalami suatu pergolakan dan mereka dominan dengan identitasnya masing-masing, takkan ada yang mau kalah, atau si wanita lebih baik kalah lalu menangis.
Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah itu? Gunakan otak dan hati kalian secara balanced agar tercipta suatu solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Laki-laki sedikit harus mengerti wanita, dan si wanita juga mulai harus mengurangi "bawa perasaan" saat bermasalah dengan pria, dan mulai berfikir apa yang terjadi kedepannya dengan menggunakan otak mereka.
Terlihat selintas logika mendominasi perasaan, melalui laki-laki yang lebih sering menyakiti perempuan daripada sebaliknya. Ini mungkin jadi sesuatu tradisi yang harus dihentikan keberadaannya. Perempuan tidak boleh terlihat inferior dan mau ditindas para laki-laki, dan lawan juga dengan logika khas para lelaki.
Misalnya, jika satu pasangan sudah terlibat suatu hubungan yang sudah lumayan lama durasinya, lalu si laki-laki menarik ulur perasaan si wanita seenaknya, dan si wanita tak bisa melawan, dan hanya menangis. Ingat, semakin kalian tidak melawan (apalagi menangis) maka para lelaki akan lebih nyaman melakukan hal yang sama karena menganggap kalian tidak masalah atas perlakuannya.
Hal itu tentunya akan merugikan kedua belah pihak, si pria jadi tidak sadar akan kesalahannya, dan si wanita tidak berani untuk mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya. Harusnya, mereka menceritakan yang sebenarnya untuk mencapai solusi, tentu sudah dipikirkan matang-matang melalui logika dan disampaikan dengan penuh perasaan agar lebih nyaman penyampaiannya.
Bagaimana? Sama pentingnya bukan sebuah logika dan segelintir perasaan? Mulailah dari detik ini kalian menyeimbangkan penggunaan keduanya. Bukan lagi condong ke satu sisi. Sesungguhnya sesuatu yang berlebihan itu tidak akan pernah baik hasilnya.
".. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."
[ QS Al An'am 6:141 ]
Jadi, masih mau mementingkan salah satu diantara keduanya? Tidak bukan? Terimakasih sudah membaca artikel ini, semoga dapat membawa perubahan positif kepada kita semua.
Wassalamu'alaikum wr wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar